Posted by: mahadarma | March 9, 2017

ANTARA ANCAMAN NEO-ORBA & RINDANGNYA POHON BERINGIN

Hampir dua dekade keruntuhan Soeharto beserta rezim Orde Baru, ternyata tidak membuat kroni-kroni Soeharto terlepas dari lingkaran kekuasaan. Setelah kejatuhan Soeharto, Golkar  sebagai representasi dan ikon rezim Orde Baru relatif masih mendapatkan tempat di hati masyarakat dan tidak pernah benar-benar mengalami masa kelam dalam perpolitikan nasional.

Rezim Orde Baru identik dengan praktik korupsi, kolusi dan nepotisme. Ciri yang lain adalah pembatasan demokrasi dan kroni-kapitalisme. Sejak tumbangnya kekuasaan Soeharto, ternyata indeks persepsi korupsi Indonesia tidak kunjung membaik. Praktik-praktik korupsi masih sering ditemui. Kolusi dan nepotisme dalam menentukan proyek pemerintah, pengadaan barang, atau rekruitmen pegawai masih menjadi praktik lumrah.

Dari berbagai data hingga tahun 2014, Golkar, PDIP dan PAN (whaaaaat?! Pantesan hakim MK yang itu…ah sudahlah) menjadi tiga besar partai dengan indeks korupsi tertinggi.

partai korup.jpg

Hasil Pemilu DPR RI sejak tahun 1971 hingga tahun 1997, selalu menempatkan Golkar sebagai pemenang Pemilu. Sejak itu, Golkar hanya menang sekali di tahun 2004, dan meraih posisi runner-up di Pemilu 1999, 2009, dan 2014.

Setelah tidak mencalonkan kandidat di Pemilu 1999, di pemilu berikutnya tahun 2004, Golkar beserta koalisi PDIP mengusung Megawati, melawan SBY. Saat itu, ketum-nya adalah Akbar Tanjung, dan tidak lama Jusuf Kalla menggantikan menjadi ketua. Golkar yang awalnya menjadi partai koalisi oposisi, beralih menjadi partai koalisi pemerintah.

Pada pemilu 2009, saat itu Wapres Jusuf Kalla yang masih menjadi ketua partai Golkar, bercerai dengan SBY dan maju menjadi calon presiden. Sayangnya, Golkar kembali kalah, dan lagi-lagi menjadi partai koalisi pemerintah.

Di Pemilu tahun 2014, Golkar gagal mengusung Aburizal Bakrie yang juga sebagai Ketum partai karena tidak berhasil mencapai batas suara/kursi yang diperlukan agar bisa mencalonkan seorang Presiden, dan memberikan dukungan ke Prabowo, yang pernah menjadi bagian dari keluarga Cendana. Untuk ketiga kalinya Golkar gagal dan beralih menjadi partai koalisi pemerintah.

Walaupun seringkali kalah ketika menjadi partai pengusung calon presiden, Golkar tidak pernah lepas dari pemerintahan. Golkar sendiri pernah menyatakan sebagai partai pemerintah, untuk itu tidak pernah berada dalam posisi oposisi.

Jusuf Kalla dalam suatu kesempatan menyatakan, “[…] filosofi Golkar adalah berkarya dan berprestasi bukan berpolitik dalam arti hanya mencari kekuasaan semata. Partai Golkar dilihat dengan prestasinya karena itu kultur Golkar bukan kultur oposisi.”

Sebuah pameo terkenal dalam politik bahwa tidak ada kawan dan lawan abadi yang ada hanyalah kepentingan. Ketika masyarakat ribut terkait pilihan politik dan kebijakan publik, ternyata gurita kongsi antarpartai banyak terjadi di level daerah.

Dalam Pilkada 2017, INSTRAT merilis laporan “ Raport Partai Politik di Pilkada 2017”. Dari data tersebut, dapat dilihat relasi kuasa berbagai partai dalam meraih kekuasaan di daerah. INSTRAT memberikan catatan mengenai kepiawaian Golkar dan sebagai tambahan, bahwa masih banyak tokoh-tokoh partai saat ini yang lahir dan mentas setelah “ospek” di partai berlambang beringin tersebut, seperti Wiranto, Surya Paloh, Prabowo, dsb.

Data INSTRAT menunjukkan partai politik teraktif dalam Pilkada 2017 adalah Partai Golkar dengan partisipasi di 98 daerah, diikuti PDIP (90) dan Demokrat (90). Golkar merupakan partai yang paling banyak mengusung petahana, disusul Nasdem dan Demokrat. Golkar juga merupakan partai terbanyak yang memenangi pilkada yaitu 54. Golkar lagi-lagi menjadi partai petahana terefektif, berhasil memenangkan 52 dari 101 pilkada. Selain itu, Golkar dan Nasdem adalah partai yang paling sering melakukan koalisi dalam Pilkada 2017 dan juga koalisi yang meraih kemenangan terbanyak dalam pilkada 2017.

Dalam jejaring kedekatan partai, tidak ada partai yang tidak pernah berkoalisi satu sama lain. Bahkan PKS sekalipun jika di level nasional terlihat berseberangan dengan partai seperti PDIP, namun data jejaring menunjukkan 30% berelasi.

Dengan demikian, jika mesin partai bekerja secara optimal, dan Golkar belajar dari kesalahan-kesalahan di pemilu-pemilu sebelumnya, serta faktor non-teknis berhasil diredam, ceteris paribus, kita dapat melihat partai mana yang siap menghadapi Pemilu 2019.

Pertanyaannya kemudian, apakah era Reformasi benar-benar telah memberikan perubahan perilaku politik bagi Indonesia, atau hanya memunculkan bibit-bibit baru yang akan menghadirkan karakteristik Orba (Neo-Orba)? Selama ini, kita mengkhawatirkan bahaya laten komunisme, namun praktik di jaman Orba masih membudaya dengan baik. Jangan-jangan masyarakat belum benar-benar “move-on” dari bayang-bayang rezim Orde Baru. Jangan-jangan kita tidak sadar akan ancaman kebangkitan Orde Baru, atau justru merindukan sejuk dan rindangnya teduhan pohon Beringin.

Sumber gambar:

Adelia Fatin, Sebenarnya, Parpol Terkorup Itu yang Mana?, http://www.kompasiana.com/fatinadelia/sebenarnya-parpol-terkorup-itu-yang-mana_584d1c12ba93734d176585b8

Laporan INSTRAT:

https://web.facebook.com/info.instrat/posts/405635429795342

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: