Posted by: mahadarma | July 14, 2012

Gibraltar: Inggris Kecil di Ujung Andalusia

أيّها الناس، أين المفر؟ البحر من ورائكم، والعدوّ أمامكم، وليس لكم والله إلا الصدق والصبر…

“Tidak ada jalan untuk melarikan diri! Laut di belakang kalian, dan musuh di depan kalian: Demi Allah, tidak ada yang dapat kalian sekarang lakukan kecuali bersungguh-sungguh penuh keikhlasan dan kesabaran..” ~ Tarik ibn Ziyad (711M)

Kalimat diatas merupakan sepengggal orasi Thariq bin Ziyad (Tarik bin Ziyad) saat mencapai tanah di ujung semenanjung Iberia ketika akan menaklukkan Andalusia (Spanyol) pada tahun 711 Masehi. Dari nama beliau pula, tanah tersebut kemudian dinamakan Gibraltar, dari asal kata Jabal Tarik (Gunung Tarik). Seperti diketahui, bahwa kekuasaan Islam di Andalusia tidak berlangsung lama, tercatat selama 8 abad saja, sebelum kemudian dikuasai kembali oleh kerajaan Spanyol.

Sudah tercatat beberapa kali hubungan Inggris dan Spanyol memanas akibat sengketa Gibraltar. Setelah tidak menghadiri pernikahan Pangeran Charles, pada tahun 1981, Spanyol sempat meradang karena keberadaan Pangeran Charles dan Putri Diana di Gibraltar dalam perjalanan bulan madu mereka.

Terakhir 17 Mei 2012 kemarin ketika Ratu Sofia dari Spanyol menolak menghadiri undangan jamuan makan malam dari Ratu Inggris atas peringatan 60 tahun berkuasanya Ratu Elizabeth. Juru bicara Istana Spanyol mengatakan, tidak pantas jika Ratu turut serta dalam acara tersebut, sementara martabat bangsa tengah dipertaruhkan. Ketegangan belakangan muncul karena rencana putra Elizabeth, Pangeran Edward dan istrinya Sophie, mengunjungi Gibraltar pada 11-13 Juni untuk memperingati Diamond Jubilee.

Gibraltar
Sebuah wilayah yang berada di pinggir lautan Mediterania ini telah menjadi titik vital karena menjadi area keluar-masuk dari dan ke lautan Mediterania. Ketika kolonialisme dan perdagangan dunia mulai merebak, pelayaran dari Eropa ke Asia dan sebaliknya selalu memutar ke selatan melalui benua Afrika. Hal ini tentu menjadi tidak efektif dan efisien karena banyak waktu yang terbuang dan komoditas yang tidak tahan lama akan menjadi busuk. Semenjak dibukanya Terusan Suez pada tahun 1888, jalur pelayaran tidak lagi memutari Afrika namun melewati Terusan Suez dan terus ke lautan Mediterania lalu ke Eropa.


Gibraltar, dengan posisinya yang strategis di pintu masuk Mediterania memungkinkan akses ke Laut Tengah dan Suez, yang merupakan jalur penting pelayaran dan perdagangan internasional. Selain sebagai pelabuhan dan titik vital pelayaran maupun perdagangan, Gibraltar memiliki nilai strategis secara militer. Hal ini dibuktikan oleh Inggris pada Perang Dunia II.

Tanah seluas 6 km2 dengan bukit karang menjulang tersebut tidak memiliki pendapatan selain pajak pelabuhan dari kapal-kapal tanker dan penumpang maupun pajak pelayaran selat. Selebihnya, turisme dan perbelanjaan.

Sejarah Sengketa
Sejak 1704 kedaulatan Gibraltar berada dibawah kekuasaan Anglo-Belanda yang menang perang melawan Spanyol dalam Perang 80 Tahun (Eighty Years War). Kemudian pada tahun 1713 Spanyol menyerahkannya pada Inggris melalui Perjanjian Utrecht. Sejak itu pula, Spanyol tiga kali berusaha mengambil alih kembali Gibraltar namun tidak berhasil. Referendum yang diadakan pada 1967 dan 2002 yang bertujuan untuk mengembalikan wilayah itu ke Spanyol, justru menghasilkan sebaliknya, 99% penduduk memilih untuk tetap berada di bawah kekuasaan Inggris. Memang tidak ada ketegangan berarti antara Spanyol dan Inggris terkait klaim wilayah ini, namun Spanyol tetap tidak mau melepaskan kekuasaan politiknya atas Gibraltar.

Kepentingan Spanyol
Spanyol tidak ingin kehilangan Gibraltar, bahkan hingga sekarang, sudah beberapa kali percobaan untuk mengembalikan kedaulatan Gibraltar ke Spanyol namun masih gagal. Tercatat percobaan penaklukan terbesar terjadi pada tahun 1779-1782, masa-masa dimana Inggris kalah dengan Amerika Serikat yang berujung pada kemerdekaan Amerika Serikat. Penaklukan ini berakhir ketika Inggris mengembalikan wilayah Florida dan Minorca ke Spanyol (saat itu Florida masih belum menjadi negara bagian AS).

Kepentingan Inggris
Keberadaan Gibraltas sangat penting bagi Inggris. Gibraltar pada awal mulanya sebagai titik masuk kawasan Mediterania kemudian bersama Malta berperan penting dalam Perang Dunia II terutama untuk akses ke Afrika Utara. Perang Krimea (Crimean War) di tahun 1854-1856 dan pembangunan Terusan Suez di tahun 1867 turut menegaskan pentingnya Gibraltar.

Yang menarik adalah Spanyol juga memiliki daerah jajahan setelah Gibraltar jatuh ke Inggris. Daerah jajahan tersebut, Ceuta dan Melilla, berada di Afrika Utara berbatasan dengan Maroko dan dianggap sebagai sandera untuk mendapatkan Gibraltar kembali. Dan pemerintah Maroko sudah beberapa kali meminta Ceuta untuk dikembalikan kepada Maroko, namun Spanyol menolak.

Gibraltar


Responses

  1. Reblogged this on MOZAIK birumuda.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: