Posted by: mahadarma | July 11, 2012

Asimetrik Informasi: HAM dan Kebebasan Berpendapat Bagi Kelompok Marjinal

“I do not agree with what you have to say, but I’ll defend to the death your right to say it..” ~ Voltaire

Kebebasan berpendapat dan berekspresi telah dijamin oleh negara dalam UUD 1945. Namun hal ini tidak berlaku secara meluas terutama pada kelompok-kelompok tertentu yang termarjinalkan. Kelompok marjinal kerap ditekan/dibatasi ketika ingin menggunakan haknya tersebut. Kelompok marjinal rentan terstigma dan terhambat ketika berinformasi dan berekspresi, karena faktor yang membedakan antara kelompoknya dengan mayoritas masyarakat. Hal ini dianggap sebagai penyebab Asimetrik Informasi yang kemudian juga berdampak pada pengambilan kebijakan publik oleh penyelenggara negara. Meskipun penelitian kesenjangan digital banyak berfokus pada akses teknologi, penyebab lain adalah kurangnya kesadaran informasi yang kita sebut asimetri informasi.

Dalam kegiatan Forum Group Discussion 2012 yang dimotori oleh ICT Watch (Internet Sehat), Asimetrik Informasi menjadi salah satu topik bahasan. Hal ini terkait dengan kebebasan berekspresi yang sejatinya menjadi satu bagian dari Hak Asasi Manusia. Dalam FGD tersebut, anggota kelompok diskusi diminta untuk merumuskan rekomendasi terkait isu Asimetrik Informasi yang dialami oleh beberapa kelompok marjinal.

Asimetri Informasi adalah suatu kondisi di mana satu pihak memiliki satu (atau lebih) informasi dari yang lain kemudian menciptakan ketidakseimbangan kekuasaan (atau pengaruh) dalam transaksi yang mempengaruhi hasil pengambilan keputusan.

–        imperfect information – absence of certain knowledge (uncertainty)

–        asymmetric information — one party has better information than the other party with worse information also suffers from imperfect information

Istilah Asimetri Informasi lebih dikenal dalam ilmu ekonomi, namun tidak jarang juga ditemui dalam istilah ilmu politik dalam konteks Moral Hazard yang dipahami sebagai dilema principal-agent. Asimetri Informasi bisa juga disebabkan oleh Digital Gap.

Penguasaan (bisa dikatakan monopoli) informasi oleh kelompok tertentu terhadap kelompok lainnya dapat disebabkan oleh pengelolaan manajemen informasi yang tidak baik oleh regulator dalam hal ini negara, pressure dari kelompok kepentingan tertentu, maupun adanya keterbatasan akses maupun ruang berekspresi dan berpendapat, sehingga hal ini berpengaruh pada kebijakan publik yang dirumuskan dan diambil dimana tidak dapat mengakomodasi masyarakat secara utuh. Asimetri Informasi ditengarai sebagai mungkin penyebab keterbelakangan dan ketidakadilan.

Permasalahan yang terjadi di masyarakat adalah adanya sekelompok masyarakat yang tidak bisa menikmati kebebasan berpendapat dan berekspresi karena satu dan lain hal misal terkait preferensi seksual (LGBT), mengidap penyakit tertentu (ODHA), masyarakat dengan disabilitas, masyarakat dengan latar belakang politik tertentu (Eks Tapol), sementara pendapat mereka juga diperlukan dalam menentukan arah kebijakan publik.

Terlepas dari “label” yang melekat, selama masih dalam koridor hukum dan undang-undang yang berlaku, kebebasan untuk berpendapat seharusnya tidak membeda-bedakan pada kelompok atau golongan tertentu. Namun demikian, kebebasan berekspresi sendiri bermasalah pada tataran definisi. Sejauh mana batasan kebebasan tersebut?

PBB menyatakan akses internet adalah Hak Asasi Manusia. Resolusi PBB menyatakan bahwa setiap orang berhak untuk terkoneksi dan mengekspresikan diri mereka di Internet. Hal ini disepakati oleh Dimas PM, Presiden Kartunet.com, bahwa mereka meng-endorse dan mendorong upaya self-empowerment kepada teman-teman disabilitas untuk menguasai teknologi terutama IT dan memiliki kemampuan menulis yang memadai, karena dengan demikian aspirasi mereka dapat didengar dengan harapan kebijakan publik dapat mengakomodir masyarakat dengan disabilitas.

Untuk itu, Forum Group Discussion 2012 yang dimotori oleh ICT Watch (Internet Sehat) mengadakan diskusi untuk merumuskan rekomendasi-rekomendasi terkait kebebasan berekspresi dan berpendapat dalam ranah online. Nantikan hasilnya!

_____________________________

(Tulisan disarikan dari berbagai sumber)
Gambar:
Lukisan Potret Kaum Marjinal Karya Taufik Prawoto

Responses

  1. pengen nya bebas bablas, merusak perilaku masyarakat yg mana adalah hak mereka juga untuk hidup secara ‘waras’ tanpa diserang oleh paham2 yg rusak


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: