Posted by: mahadarma | December 18, 2011

Menggugah Kepedulian Melalui ASEAN ParaGames

“Mereka membela bendera yang sama, dan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang sama ketika emas dikalungkan”

Salah satu isu terkait kepedulian terhadap penyandang disabilitas adalah kesetaraan hak. Di Solo, dimulai tanggal 12 Desember 2011, sedang berlangsung ASEAN ParaGames, yaitu ajang pesta olahraga negara-negara ASEAN dengan peserta penyandang disabilitas fisik, yang diadopsi dari the Paralympic Game.  Ajang ini akan mempertandingkan 11 cabang olahraga.

To promote friendship and solidarity among persons with disabilities in the ASEAN region through sports; To promote and develop sports for the differently abled; To rehabilitate and integrate persons with disability into mainstream society through sports.

Sumber: Wikipedia

Di satu sisi, kita menghargai bagaimana negara Indonesia dan negara-negara di kawasan memberikan panggung olahraga bagi mereka yang menyandang disabilitas. Hal ini sangat positif untuk para atlet dan masyarakat umum, untuk membuktikan bahwa para penyandang disabilitas ini juga setara dengan yang lain yang mampu berprestasi dan bermanfaat bagi bangsa dan negara.

Sayangnya, ASEAN ParaGames ini gaung dan gebyarnya kurang terdengar, bahkan tidak semegah perhelatan SEA Games yang pelaksanaannya hanya selisih sebulan, atau 9 hari dari peringatan Hari Penyandang Disabilitas. Lihat saja bagaimana publikasi ajang ini yang kurang terdengar. Pemberitaan di media, baik cetak maupun elektronik (baca: tv) tidak memberikan porsi yang sama bila dibandingkan dengan SEA Games. Jarang sekali berita liputan terpampang di halaman depan koran nasional dan lokal. Bahkan sejauh yang saya amati, tidak ada stasiun televisi nasional yang menyiarkan kegiatan ASEAN ParaGames baik langsung maupun sekedar ulasan. Mengapa? Apakah tidak ada kebanggaan yang sama dibandingkan dengan ajang seperi SEA Games? Beritanya tidak layak jualkah? Tidak ada sponsor/iklan?

Dalam menunjukkan kepedulian bagi mereka pun tidak cukup dengan memberi hak yang sama, aksesibilitas yang sama, tapi perlu juga apresiasi yang sama, syukur bisa lebih. Bagaimana tidak miris mendengar bonus bagi para atlet yang berprestasi mendapatkan emas hanya di”ganjar” Rp 30 juta, terakhir naik menjadi Rp 40 juta. Bandingkan dengan atlet SEA Games yang mencapai ratusan juta hingga 1 miliar rupiah, meski menurut Menegpora seorang atlet ParaGames bisa mengikuti hingga 8 cabor.

Ini secara implisit membuktikan cara pandang negara dan masyarakat terhadap para penyandang disabilitas sebagai masyarakat kelas dua. Masyarakat kita masih eksklusif dan sulit menerima perbedaan, meski sebatas fisik belaka. Seolah ajang ini sebatas belas kasihan saja atau seremonial belaka. Wajar bila para atlet ASEAN ParaGames merasa sedih diperlakukan diskriminatif, padahal mereka membela bendera yang sama, dan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang sama ketika emas dikalungkan ke leher mereka.

Seorang penyandang disabilitas di sebuah media cetak nasional menuliskan kegundahannya,

“Jika pejabat negara mampu mengeluarkan uang miliaran rupiah untuk berpesta-pora sekadar menikahkan anak-anak mereka, tentu seharusnya negara ini memiliki cukup dana untuk melakukan perbaikan demi mensejahterakan rakyatnya.”

Namun, jangankan pemerintah, di masyarakat dan media saja masih banyak kesimpangsiuran dan inkonsistensi bagi para mereka, apakah menggunakan istilah penyandang cacat, difabel, difabilitas, atau disabilitas. Tentu istilah-istilah ini menjadi acuan paradigma dan perspektif kita, sejauh mana kita mampu menghilangkan stigma tersebut. Sebagai informasi, saat ini sedang disosialisasikan penggunaan istilah disabilitas sebagai kata ganti penyandang cacat maupun difabel.

Ada secercah harapan untuk menghapus stigma dan diskriminasi bagi penyandang disabilitas ketika pemerintah meratifikasi UU Penyandang Cacat menjadi UU Konvensi Penyandang Disabilitas. Setidaknya, ada standarisasi yang mengatur kesetaraan hak dan aksesibilitas bagi mereka. ASEAN ParaGames pun diharapkan membuka mata dan wawasan masyarakat terhadap eksistensi para penyandang disabilitas.

Bagi mereka yang sedang berjuang demi mengharumkan nama bangsa, teruslah berjuang, kau adalah bagian dari kebanggan negeri ini.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: