Posted by: mahadarma | November 20, 2011

Haruskah Menjadi Wirausahawan?

Wirausaha itu butuh sense & itu bisa dilatih. Tapi gak usah memaksakan jika kita merasa gamang. Jadi pegawai kalo profesional juga bagus kan?

– @motulz

Tulisan ini terinspirasi dari banyaknya orang yang menggalakkan untuk berwirausaha, dan mendorong yang lain menjadi wirausaha, bahkan beberapa menganggap profesi ini lebih mulia dibanding yang lain (baca: PNS maupun karyawan). Untuk beragam definisi Wirausaha, saya meminjam sebuah postingan di blog ini.

Sesungguhnya perdebatan semacam ini sudah usang karena sudah banyak diulas. Anda bisa saja googling, tapi sayangnya lebih banyak yang menulis dari sisi wirausaha, tanpa mengulas sisi lainnya, atau mencoba menjadi penengah diantaranya. Tulisan ini semacam argumen saya bahwa tidak setiap orang harus menjadi wirausahawan.

Ya, saya termasuk orang yang tidak sepakat bahwa setiap orang harus berwirausaha, seperti yang digembar-gemborkan seorang motivator. Saya juga tidak peduli bahwa manusia harus menjadi kaya, hidup diperhambakan pada harta benda. Tidak munafik bahwa manusia pasti butuh uang, tapi jangan menghambakan diri hanya semata-mata demi duniawi saja. Lagipula dalam benak saya simpel, kalo semua orang jualan yang mau beli siapa? Yang akan menjalankan bidang kehidupan lain siapa? Artinya, Tuhan sudah menciptakan manusia dengan spesifikasi keahlian masing-masing. Ada yang di bidang hukum, ekonomi, politik, dan lain sebagainya.

Saya juga percaya bahwa manusia punya passion, minat, bakat pada bidang tertentu yang mana ia berhak memutuskan bidang apa yang akan ia geluti. Maka ketika ada seorang motivator (taulah siapa) yang mengatakan bahwa: “lelaki yang tidak berani berwirausaha sebaiknya menggunakan konde”, atau “seseorang harus membakar kapalnya dan menjadi wirausahawan”, bagi saya menafikkan dan merendahkan profesi lain.

Setiap orang berhak memutuskan profesi apa yang akan ia jalani, rejeki sudah ada yang mengatur, ada yang lewat jalan dagang, atau lainnya, yang penting adalah bagaimana seseorang bisa profesional mengerjakan apa yang disukainya.

Freelancer, partimer, pegawai, usaha sendiri, itu bukan jenjang karir. Selama dikerjakan sungguh2 itu baik! Silakan pilih yg cocok.

Motivator yang mengajak pegawai untuk resign & beralih jadi wirausaha itu baik, selama gak menganggap bahwa pegawai = lebih rendah dari wirausahawan

– @motulz

Saya pun tidak peduli dengan teori yang dibuat oleh para motivator entrepreneur macam Robert T. Kiyosaki, dll. Tentang bagaimana menjadi kaya, bagaimana uang datang dengan sendirinya.

Mengapa kita harus berorientasi pada kekayaan materi/finansial?

Mengapa tidak melihat pada kepuasan batin seseorang atas apa yang ia kerjakan?

Pertanyaan kembali, apakah kaya itu menjadi tujuan hidup atau semacam imbas alias efek samping saja? Permasalahan apakah anda ingin menjadi seorang wirausahawan, karyawan, atau PNS, adalah sebuah pilihan hidup. Bagaimana kita mempersepsikan apakah itu tujuan dan pilihan hidup, dan apa itu kaya.

Kalo cuma ingin kaya secara finansial/materi, Safir Senduk -Financial Planner terkemuka- dalam sebuah bukunya menuliskan bahwa seorang karyawan juga bisa jadi kaya. Kuncinya:

  1. Beli & Miliki Sebanyak Mungkin Harta Produktif,
  2. Atur Pengeluaran Anda,
  3. Hati-hati dengan Utang,
  4. Sisihkan untuk Masa Depan,
  5. Miliki Proteksi.

Ibu saya pernah berpesan,

“Kaya itu tidak melulu materi atau harta. Orang bisa kaya ilmu, pengetahuan, pengalaman, saudara, dan relasi. Yang terpenting adalah mensyukuri apa yang diraihnya”

Dalam Islam pun diajarkan,

من أعطي قلبا شاكرًا، ولسانًا ذاكرًا، وجسدًا صابرًا، فقد أوتي في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة، ووقي عذاب النار.

Barangsiapa yang dianugerahkan hati yang selalu bersyukur, lisan yang selalu berdzikir, jasad yang selalu bersabar, sungguh ia akan diberi kebahagiaan dunia, kebahagiaan akhirat dan diselamatkan dari siksa neraka.”

Pentingnya berlindung dari kekayaan yang dapat membawa pada keburukan. Yang dimaksudkan di sini adalah sifat sombong dan melampaui batas terhadap kekayaan yang diberikan. Yang dimaksudkan juga adalah menggunakan harta untuk hal-hal yang diharamkan atau hal maksiat, juga untuk saling berbangga dengan harta dan kedudukan.

Pentingnya berlindung dari kefakiran (kemiskinan) yang mengandung kejelekan. Yang dimaksudkan di sini adalah sifat hasad (dengki) dengan orang-orang kaya dan begitu tamak dengan harta-harta mereka. Juga yang dimaksudkan keburukan miskin adalah menghinakan diri (dengan meminta-minta atau mengemis) sehingga merendahkan kehormatan dan merusak agama. Yang dimaksudkan keburukannya lagi adalah tidak ridho dengan ketentuan Allah yang telah membagi rizki pada setiap makhluk dengan begitu adilnya.

Fitnah kaya dan miskin bisa berarti ujian atau cobaan. Bisa jadi kekayaan dan kemiskinan adalah cobaan yang Allah beri. Dengan kekayaan mampukah seseorang untuk bersyukur. Dengan kemiskinan bernarkah ia mampu bersabar. Jadi keduanya bisa jadi ujian.

Maka berdoalah:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ النَّارِ وَعَذَابِ النَّارِ وَمِنْ شَرِّ الْغِنَى وَالْفَقْرِ

“ALLAAHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MIN FITNATIN NAAR WA ‘ADZAABIN NAAR, WA MIN SYARRIL GHINAA WAL FAQR”

(Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari fitnah Neraka dan adzab Neraka, serta dari keburukan kekayaan dan kefakiran).

Kaya adalah ujian,sedangkan miskin adalah cobaan. Orang mukmin adalah orang yang sabar ketika miskin dan bersyukur ketika kaya”


Responses

  1. ndilalah aku kok ya bukan penyuka pikiran-pikirannya kiyosaki. :p
    pertanyaan saya sih simple mas, siapa yang mengharuskan?
    mari merdeka saja🙂

    • ndak ada sih kang, cuma risih dilokke. Diajak debat yo ora gelem, ya sudah tak paparkan saja argumenku di blog. hehehe, suwun sampun mampir.

  2. banyak yang mengukur kesuksesan itu dengan materi dan harta.. tapi itu salah. kesuksesan itu dari kepuasan hati..😀

    saya tidak suka buku bukunya tiyosaki, mengajari orang hanya untuk kaya materi..

  3. Kaya itu dari hati. Jika kita mau membuka mata, banyak sekali hal di dunia ini yang tidak akan bisa di beli dengan uang.

  4. Salam kenal mas. Setuju dengan pendapat mas. Apapun pekerjaan kita kalau dikerjakan dengan baik dan kita mencintainya, itu baik. Saya suka jengah membaca beberapa tweet motivasi utk berwirausaha. Kesannya kalau belum Jãϑî pengusaha belum hebat. Saya pernah mencobna wirausaha dan akhirnya memutuskan dunia saya bukan itu. Dan untuk saat ini, saya memutuskan lebih baik saya fokus ke passion saya yaitu menjadi peneliti. Hati saya lebih tenang dan bahagia sekarang.

    • @Mitza, salam kenal kembali. Rupanya cita-cita kita sama. hehehe..

      Saya sependapat, ikuti passion kamu sesuai minat dan bakatmu, tetap kembangkan kemampuanmu ke tingkat tertinggi. Insya Allah pasti ada jalan sukses menuju kesana. Saya pernah baca, jika kita punya kemauan kuat, dunia seolah akan membantu kita mewujudkannya. Asal tetap optimis dan berusaha.

      Sukses ya.

  5. Mengingatkanku untuk ikhlas. Berat berooo, meski tak berarti tidak bisa. Lihatlah orang-orang kaya yang tidak ikhlas, mereka jusitru tersiksa.
    Meski tidak kaya, jika saya bisa ikhlas, rasanya lega berooo.

  6. hihi.. sama.. waktu itu sempet iseng ngedebat temen yg keukeuh ngomong semua orang harus wirausaha blablabla.. lalu siapa yg jadi dokter kalo sakit? siapa yang nanem padi di sawah? siapa yang bikin gedung? siapa yang jadi pemain bola? intinya, kerjaan itu ya.. selain nasib.. tentunya semua profesi yang baik2 itu saling bergantung satu sama lain kan ya?

  7. Sepakat bahwa nggak semua orang harus jadi usahawan, krn klw nggak ada yg kerja usahawan juga nggak jalan. Mungkin yg rada menggelithik sebenarnya banyak peluang yg ada, tidak atau kurang ada yg memanfaatkan, sementara yg nganggur banyak, gimana ini? Jadi bagi yg bisa (berbakat atau punya skill wira usaha), monggo didorong krn jumlah usahawan di Indonesia sangat kecil 0;25% dari normalnya negara maju 2-3% minimal. Selain akan memajukan ekonomi bangsa (daripada dijajah perusahaan asing) juga menjanjikan secara materi, tentu sesuai dng resiko nya. Monggo mas….

    • Peluang apa? Berwirausaha? Saya disini menekankan untuk setiap orang mengembangkan kemampuan sesuai minat dan bakatnya, apapun itu. Sesuatu yang dijalankan dengan konsisten dan tekun, nanti rejeki akan datang sendirinya. Saya tidak paham, mengapa orang selalu berbicara perbandingan jumlah usahawan, yang akibatnya dipaksa secara halus oleh negara. Ini bukan akal-akalan negara yang tidak mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan menekan jumlah penduduk kan? atau ketidakmampuan negara untuk menciptakan kualitas pendidikan yang baik sehingga warga negaranya mampu bersaing secara global?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: