Posted by: mahadarma | October 3, 2011

Perubahan di PT. KAI cuma slogan belaka?

Logo Baru PT. KAI

Kereta api bukan lagi moda transport yang asing bagi saya, 2 minggu sekali saya menggunakan kereta api, terutama jalur selatan. Sejak bulan puasa, saya merasakan ada berbagai perubahan kebijakan oleh PT. KAI, yang menurut saya baik untuk institusi KAI dan konsumen.

Pada Rabu 28 September 2011, PT. KAI meluncurkan logo barunya, dikutip dari Antaranews.com:

“Nilai integritas adalah hal yang tak bisa ditawar lagi, begitu pula keselamatan merupakan hal yang tidak dikompromikan. Hari ini bukan sekedar mengganti logo lama namun lebih utama adalah perubahan nilai dan perilaku insan PT. KAI dalam meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat,” kata Dirut PT. KAI, Ignasius Jonan.

Logo baru PT. KAI yang akan menjadi identitas baru BUMN itu terdiri dari tiga garis melengkung yang melambangkan dinamis, dua garis warna orange melambangkan proses pelayanan prima bagi pelanggan.

Sementara itu anak panah warna putih melambangkan nilai integritas sedangkan satu garis warna biru di bawahnya melambankan semangat inovasi yang harus dilakukan dalam memberikan nilai tambah ke stakeholders.

Per tanggal 1 Oktober, PT. KAI mengumumkan kebijakan baru (meski hal ini sudah berlaku sebelumnya) terkait pembatasan penumpang di setiap rangkaian gerbong kereta api. Kebijakan ini sesungguhnya positif karena akan menghindari dari terjadinya overload penumpang (terutama KA kelas ekonomi), peningkatan mutu pelayanan yang semakin baik, mampu menghindari terjadinya kecelakaan karena sarat penumpang, dan lain sebagainya. Sayangnya kebijakan ini tidak disertai kebijakan lanjutan sehingga masih merugikan penumpang, misal informasi dan sosialisasi yang cukup, penambahan jumlah kereta, dan lain-lain.

Pengumuman PT. KAI

Pengumuman PT. KAI di loket

Pengumuman PT. KAI di loket

Saya sendiri mengalami kesimpangsiuran dari kebijakan baru PT. KAI ini. Sebulan yang lalu, ketika saya hendak melakukan perjalanan Kutoarjo – Maos menggunakan KA Kutojaya Selatan dari Stasiun Kutoarjo, saya mengalami kehabisan tiket, yang hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya untuk KA kelas ekonomi. Dengan terpaksa, saya beralih menggunakan moda lain. Kemudian keesokan harinya, ketika saya hendak balik menggunakan KA Kahuripan, niat saya untuk melakukan pembelian tiket di Stasiun Maos ditolak, karena stasiun tersebut tidak lagi melayani pembelian tiket KA Kahuripan, dan beberapa KA lainnya. Awalnya saya kaget, karena minimnya informasi ke publik, terutama media cetak, dan informasi yang diberikan pun tidak lengkap. Dampaknya, jadwal saya menjadi terganggu karena harus mencari moda transportasi lain.

Seminggu yang lalu, saya hendak melakukan perjalanan yang sama, untuk mengantisipasi kehabisan tiket, maka saya memutuskan untuk melakukan reservasi (waktu itu saya mendengar bahwa KA kelas ekonomi sudah bisa untuk reservasi dengan batas 7 hari sebelum pemberangkatan). Saya menanyakan perihal reservasi tiket KA kelas ekonomi di Stasiun Lempuyangan (Yogyakarta) untuk kereta yang saya maksud (Kutojaya Selatan & Kahuripan), ternyata hal ini tidak dapat dipenuhi oleh pihak Stasiun karena mereka hanya melayani untuk pemesanan tiket KA Progo dan KA Gajah Wong. Saya sempat bingung juga ketika ditanya oleh petugas darimana saya mendapatkan informasi reservasi tiket KA kelas ekonomi. Saya pun pulang dengan tangan hampa.

Sabtu kemarin, saya akhirnya ke Stasiun Kutoarjo (menggunakan KA Prameks), kemudian melanjutkan rencana untuk melakukan pemesanan tiket (siapa tau disini bisa). Saya mencoba mencari informasi, namun kembali saya dikecewakan. Bagaimana tidak, dari sekian banyak loket, hanya dua loket yang dibuka, yaitu loket 2 (KA Bogowonto, seperti tampak pada gambar), dan loket 4 untuk KA Prameks. Ketika saya menanyakan seorang petugas stasiun, beliau ikut bingung, dan kemudian menyarankan untuk ke loket 2. Dari loket 2 saya “dilempar” ke loket 4, alasannya itu loket untuk KA Bisnis, loket 4 untuk ekonomi.

Saya pun ikut mengantri di loket 4, ketika sampe di depan, petugas loket menyuruh menunggu karena prioritas untuk penumpang KA Prameks, dan reservasi baru dilayani setelah KA Prameks dan KA Kutojaya Selatan berangkat.

Sempat terjadi keramaian, karena petugas loket 4 mengatakan untuk jurusan Bandung tersedia di loket 2, beberapa penumpang pindah antrian ke loket 2, namun ditolak karena itu adalah loket KA kelas bisnis. Sangat disayangkan, karena di dalam loket tampak beberapa petugas, yang menurut kami yang mengantri, harusnya pihak stasiun bisa membuka loket lain.

 

Pada akhirnya, saya pun mendapatkan tiket. Namun, saya jadi bertanya-tanya, mengapa di Stasiun Kutoarjo bisa melakukan reservasi (pemesanan) sementara di Stasiun Lempuyangan (Yogyakarta) dan Stasiun Maos tidak bisa. Ketika saya cek situs PT. KAI, untuk Reservasi Tiket sub bagian Stasiun Online, juga tidak memuat informasi yang lengkap dan jelas (cek gambar dibawah ini)

Stasiun Online

Pagi ini ketika saya menggunakan KA Kahuripan, ternyata saya masih menemukan penumpang yang berdiri, tanpa tiket, bahkan membayar diatas kereta kepada oknum kondektur.

Kapan implementasi kebijakan baru ini akan efektif Pak Ignasius Jonan? Buktikan kalo Kami (konsumen) memang adalah Prioritas Anda (PT. KAI)


Responses

  1. iya bero ane juga ngerasa gitu, cen terkesan gak serius

    • biasa, berkutat pada hal-hal yang ga substantif.

  2. Itu bukti perubahan slogan itu cuma proyek pencitraan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: