Posted by: mahadarma | September 13, 2011

Tanpa Nama di Dunia Digital

Anonym vs Pseudonym

“The Internet has always been a refuge of anonymity”

Internet Evolution: The War on Web Anonymity, Marcel Rosenbach & Hilmar Schmundt

“Using a pseudonym has been one of the great benefits of the  Internet, because it has enabled people to express themselves  freely—they may be in physical danger, looking for help, or have a condition they don’t want people to know about,”

Google Public Policy Blog: February 2011

Bahasan tentang penggunaan identitas di internet terutama social media kembali mengemuka. Setelah beberapa pekan lalu ramai dibicarakan tentang pengungkapan siapa dibalik identitas akun @poconggg. Kini juga dipermasalahkan ketika berkaitan dengan media yang beritanya kerapkali asal comot informasi atau isu di sosial media. Hal ini bukan pertama kali, publik tentu masih ingat ketika politik nasional panas disebabkan berita-berita miring di sosial media terutama twitter oleh akun-akun anonim.

Definisi

Ada 3 jenis penggunaan identitas di media terutama online (internet), yaitu: orthonym (penggunaan nama asli), pseudonym (nama alias), dan anonym (tanpa nama). Dalam beberapa referensi pseudonym dan anonym tidak dibedakan. (sumber: link)

Jadi pseudonim dapat diterjemahkan sebagai nama pena, nama fiksi, nama alias, nama on-air. Sebuah nama yang diasosiasikan dengan seseorang dalam suatu periode tertentu (link). Misal: @mahadarma, @lantip, Mark Twain (Samuel Clemens), Sujiwo Tejo (Agus Hadi Sujiwo), dll.

A pseudonym is a durable name that is associated with the same person for a long period of time

Sementara anonim, tidak memiliki kejelasan identitas, misal: NN, hamba Allah, anonim, @bangzul_pki, @pocongg, @Gurita_Global, @TrioMacan2000.

Sejak kapan seseorang menggunakan pseudonim/anonim? Bergantung pada profesi maupun karya. Misal artis,  penulis/penyair, penyiar radio, intelijen atau bahkan seorang kriminal sekalipun. Kini, penggunaan pseudonim/anonim semakin dipermudah dengan adanya internet, baik identitas di sosial media atau blog, atau dikenal sebagai online identity.

Bagaimana orang-orang memilih nama pseudonim/anonim? Tidak ada rumusan pasti, namun saya melihat beberapa kecenderungan untuk menggunakan nama berdasarkan tokoh idolanya, anagram, akronim, nama sarkasme, plesetan, hingga “mengadopsi” nama baru, dan juga nama-nama nyeleneh terutama dari generasi “alay”-ers, misal cute, imyut, dsb😛 .

Perdebatan

Perdebatan tentang penggunaan identitas di internet sejatinya sudah berlangsung cukup lama, yang paling heboh terkait sosial media adalah keinginan Google (Google+) dan juga Facebook yang memberikan syarat untuk penggunaan identitas asli, meski nyatanya tidak efektif juga, karena masih banyak ditemui akun-akun dengan identitas bukan dengan nama asli.

Berikut adaah infografik dukungan terhadap penggunaan identitas “Transparancy vs Anonymity“.

Selain alasan diatas, bagi yang pro anonim memiliki argumen sebagai berikut:

  1. Pseudonim jelas memiliki sejumlah manfaat. Berikut siapa saja yang membutuhkan privasi dari pseudonim:
    • Orang yang hidup dalam rezim politik yang oppresif.
    • Whistleblowers
    • Orang yang memiliki stalker dan ingin menyembunyikan identitas mereka yang sebenarnya
    • Orang-orang yang memiliki masalah pencurian identitas
    • Selebriti yang ingin berpartisipasi dalam diskusi tanpa terkait dengan status selebriti mereka
    • Siapa pun yang ingin mengomentari isu-isu tabu atau isu-isu sosial yang sensitif seperti politik atau agama dengan cara yang mungkin tidak dihargai oleh rekan, keluarga, lingkungan, dll.
    • Orang dalam kesulitan atau mencari bantuan tentang masalah yang sangat pribadi (link)
  2. Setiap orang memiliki dan butuh multiple identities (link)
  3. Hampir sama dengan point no. 2, menyatakan pentingnya untuk membangun identitas online terlepas dari nama asli. Sebagian orang merasa bahwa memiliki alter ego dan memerankannya adalah sebuah keasyikan.
  4. Anonimitas, fantasi dan beberapa lingkungan online telah memberikan kesempatan yang luas untuk ekspresi kebutuhan yang tidak disadari dan emosi. Salah satu contoh yang baik adalah “transference.” (link)
  5. Internet tidak menjamin kebebasan internet secara penuh, kekhawatiran atas abuse, cyber-bullying, intimidasi sehingga anonim/pseudonim dapat menciptakan keamanan dan kenyamanan tersendiri.
  6. Seringkali, orang cenderung melihat identitas  dan label yang memberikan informasi, misal apa profesinya, background pendidikannya, sehingga menyebabkan ketidaknyamanan untuk mengungkapkan sesuatu di dunia maya.
  7. Mengeblog secara anonim banyak dilakukan dengan alasan keamanan. Informasi-informasi yang disampaikan secara anonim biasanya adalah:
    • Keadaan suatu negara yang dianggap represif;
    • Kritikan terhadap pemerintah;
    • Informasi keadaan tempat kerja yang dianggap tidak menyenangkan;
    • Informasi tentang terjadinya suatu kejahatan (whistleblower);
    • Opini politik;
    • Informasi yang dianggap rahasia (link)

Sementara yang kontra, berpendapat bahwa:

  1. Pertumbuhan akun anonim memunculkan pertanyaan terkait bagaimana menyeimbangkan kebebasan berbicara dan transparansi dalam komunikasi politik secara online (link)
  2. Akun twitter anonim berkembang menjadi senjata politik/political weapon (link)
  3. Anonim menggambarkan kekerdilan jiwa, tidak dewasa dan keengganan untuk bertanggungjawab terhadap apa yang dikatakan/ditulis. (link)
  4. Sosial media menyebabkan krisis identitas (link)

Tapi ada pula pendapat yang netral seperti berikut:

“Bagi saya menampilkan identitas diri adalah perlu. Dengan begitu kita bisa mengetahui siapa yang bertanggungjawab atas suatu posting, sekaligus menahan diri agar tidak tergoda menulis isu-isu yang kontroversial. Kadang-kadang godaan untuk menulis isu yang menimbulkan polemik timbul juga, namun dengan blog non-anonim godaan semacam ini bisa dikurangi dan dikendalikan.  Ada sebagian orang yang berkeyakinan bahwa melakukan sesuatu yang “nakal” secara tersembunyi, mempunyai keasyikan tersendiri. “Kenakalan” dalam blogging sangat dimungkinkan, konon itu sangat asyiik …

… Dilain pihak ada juga blog anonim yang secara sengaja, dengan begitu ia bisa menulis hal-hal yang menimbulkan konflik dialog. Blognya mengembangkan isu-isu yang kontroversial, dan untuk itu ia tidak mau menampilkan identitas asli.  Meskipun anonim, sesungguhnya asal dan identitas bloger tidak bisa disembunyikan seratus persen. Teknologi memungkinkan penelusuran dari mana dan siapa yang menjadi anonim. Hanya saja untuk isu-isu konflik tertentu, penelusuran blog anonim tidak terlalu bermanfaat alias buang-buang waktu. Kondisi inilah yang menjadikan ada orang yang suka menjadi anonim. (link)

Mengapa akun anonim begitu sensional? Saya rasa ada 3 penyebab: 1) karena informasi yang diberikan, walaupun validitasnya masih diragukan 2) karena menciptakan rasa ingin tau, penasaran bagi para pembacanya, 3)  karena manusia suka dalam kepura-puraan (bukan begitu?🙂 )

Kesimpulan:

Perdebatan tentang anonimitas di dunia maya akan selalu mengemuka selama isu yang diangkat adalah hal-hal yang sensitif, dan debatable. Diperlukan waktu untuk mencerna dan tidak asal percaya pada sebuah informasi, budayakan untuk cek dan ricek. Khalifah Ali pernah berkata, “Perhatikan apa yang diucapkan. Jangan perhatikan siapa yang mengucapkan. Perhatikan apa yang dilakukan, bukan siapa yang melakukan”

Untuk bacaan lebih lanjut, silahkan search dengan kata kunci: online identities, anonymity, anonym, pseudonym, social media, free speech.


Responses

  1. anonim tidak ada artinya tanpa penyimak atau pengikut, betapapun penting informasi yang disajikan, demikian juga sebaliknya.
    sementara
    -pertamax pokmen *joget2*

  2. masih belum paham, apa asyiknya anonim.
    pertamax kah saya?

    • wah.. aku ora anonim je Ru.. aku pseudonim..😛

      Iyo iyo pertamax.. hehehe

  3. Terimakasih, penjelasan anda lebih melengkapi isu anonim.
    Salam

  4. nicely written, thanks🙂.

  5. wowww… analisisnya keren… tengs infonya gan

  6. anonim di soc med sah2 aja toh, bukan anda/kita pula yg menciptakan facebook atau twitter, mereka aja gak repot2 amat,
    silakan bikin socmed sendiri, then bikin your own rules

    dan mungkin kita juga tau bahwa gak gampang nyari nama account yang benar2 kita cari sesuai nama kita😦

    saya tetap berfikir, what ever the name, content is the king, dan gak semua org berfikir so serious in socmed terutama twitter, mungkin anonym or psedonym lebih mewakili .

    anyway thanks alot for the articles, very good

    just my 2 cent
    anonym

  7. Well written🙂
    Menarik jadi bahan diskusi lanjutan. Karena kalau berdasarkan buku Lisa Nakamura, ada alasan lain kenapa individu memilih anonim atau pseudonim, yaitu masalah ras dan gender. Di Amerika sana, isu ras sangat kenceng, jadi ada ras minoritas yang ingin memblurkan identitas asli mereka, maka itu mereka milih ‘other’ identity.
    Sepertinya menarik juga untuk jadi bahan riset di Indonesia🙂
    Salam

  8. orang besar atau calon orang besar selalu menggunakan nama asli. Tanpa nama atau nama palsu menunjukkan orang tersebut tidak bisa bertanggungjawab atas apa yang diucapkannya atau dia memang sudah berniat berbuat curang dan berkata kasar…

  9. Saya belum pernah membaca korelasi antara identitas dan kaitannya dg orang besar atau calon orang besar. Dalam ilmu sosiologi dan psikologi juga belum pernah. Paling sering ya identitas dan personalitas.

    Meminjam pernyataan dari Donny BU, Direktur Internet Sehat: “Anonimitas (tepatnya pseudonim), ada krn 2 hal: hindari tg-jawab (negatif) or hindari hambatan/resiko (positif). Jgn pukul rata semua buruk.”

    Silahkan dipahami maknanya.🙂

  10. menarik dan informatif bahasannya, apalagi dengan isu pengembangan opini politik sekarang ini..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: