Posted by: mahadarma | July 11, 2011

Pakar?

Berawal dari obrolan tadi pagi di twitter dengan Mas @donnybu tentang “Pakar”.

DonnyBU: Kalo ada yg mengaku dirinya “pakar” tp gak pernah terjun ke masyarakat, jadi bagian dari masyarakat dan bantu masyarakat, ya pakar bodong!

Saya: Pakar apa dulu mas? Ada pakar tanpa turun bantu rakyat..🙂

DonnyBU: Pakar semprul! Pakar yg krn dilabel media tokh, abal2!

Saya: Ngga mas. Serius ini. Krn bidangnya tidak bersentuhan langsung dg rakyat. Contoh, pakar militer, pakar hukum internasional, cmiiw

DonnyBU: Lalu kepakarannya diuji darimana ya? Bingung beneran saya🙂 ku anggap pakar itu kayak spt kyai, yg ngasih Tuhan via rakyat🙂

Dari diskusi singkat tersebut, saya jadi tertarik mencari definisi tentang “Pakar”. Definisi dari Wikipedia :

Pakar atau ahli ialah seseorang yang banyak dianggap sebagai sumber tepercaya atas teknik maupun keahlian tertentu yang bakatnya untuk menilai dan memutuskan sesuatu dengan benar, baik, maupun adal sesuai dengan aturan dan status oleh sesamanya ataupun khayalak dalam bidang khusus tertentu. Lebih umumnya, seorang pakar ialah seseorang yang memiliki pengetahuan ataupun kemampuan luas dalam bidang studi tertentu. Para pakar dimintai nasihat dalam bidang terkait mereka, namun mereka tidak selalu setuju dalam kekhususan bidang studi. Melalui pelatihan, pendidikan, profesi, publikasi, maupun pengalaman, seoran pakar dipercaya memiliki pengetahuan khusus dalam bidangnya di atas rata-rata orang, di mana orang lain bisa secara resmi (dan sah) mengandalkan pendapat pribadi.

Ahli merupakan sinonim dari pakar. Dahulu, pengertian kata ahli lebih luas, sama dengan anggota.

Dari blog Hadinur, menyebutkan:

”seseorang yang telah menguasai bidangnya dengan sangat baik sehingga dia dapat memberikan respon yang sangat cepat (kadang kala respon ini muncul tanpa berpikir panjang — dan mungkin sekali muncul dari ketidaksadaran) jika seseorang tersebut mendapatkan ‘rangsangan’ yang berkaitan dengan bidang yang dikuasainya“.

Lalu apa syarat menjadi pakar atau ahli? Merujuk pada blog milik Asnugroho,

Salah satu point yang dipermasalahkan oleh Bernaridho adalah sebutan “pakar TI”. Menurut artikel tsb., syarat seseorang disebut pakar adalah penguasaan … Bagi saya sulit untuk membayangkan keahlian apa saja yang dimiliki oleh seseorang bila disebut pakar TI. Ada satu yang masih belum jelas bagi saya : Bernaridho memakai kata-kata : “penguasaan”. Bagaimana definisinya secara kuantitatif, seorang disebut “menguasai” ? Mungkin ini dikarenakan saya terbiasa dengan hitungan gyouseki/prestasi capaian di dunia akademik. Di kampus saya, journal dihitung 1 point, peer-reviewed international conference dihitung 0.5 point, kalau tanpa review, tidak akan dihitung. Biasanya publikasi di computer science rata-rata 8 halaman. Kalau kurang dari 4 halaman, tidak akan dihitung.

Dalam syarat pengajuan degree, kontribusi kandidat doktoral dihitung dengan cara tsb. di atas. Misalnya dulu saya disyaratkan memiliki minimal 1 journal dan beberapa international conference publication. Sedangkan rekan saya yang di jurusan biotek, disyaratkan 3 journal. Beda jurusan beda syaratnya. Dalam satu jurusan kadang juga berbeda syarat, tergantung professornya. Ada juga rekan yang tidak memiliki publikasi journal, tapi kontribusi ybs. diakui dari beberapa publikasinya pada international conference. Prinsipnya, menurut aturan monbukagakusho (P&K Jepang) kriteria seorang lulus S3 adalah kemampuan untuk melakukan riset secara mandiri. Sedangkan publikasi di atas adalah “bukti”-nya.

Kembali pada kalimat Bernaridho, saya kesulitan untuk memahami pada kata “menguasai”. Bagaimana kita mengukur kontribusi seseorang pada suatu bidang agar disebut “menguasai”. Kriteria apa yang digunakan ? Apakah jumlah publikasi, atau pengaruh dari publikasinya yang diukur dari citation rate, ataukah dalam bentuk pengakuan dari organisasi resmi, seperti Fellow Membership dari IEEE, IEICE, dsb. ?

Yang pasti untuk menjadi pakar dalam suatu bidang tidak harus berangkat dari jurusan yang mengasah bidang tsb. Seorang pakar software engineering tidak harus memiliki latar belakang pendidikan informatika. Penelitian bersifat universal dan boleh dilakukan siapa saja. Pengakuan akan kontribusi seseorang ditentukan bukan berdasarkan latar belakang pendidikannya, melainkan kontribusinya.

Penjelasan-penjelasan diatas bagi saya cukup merepresentasikan tentang apa itu Pakar, dan apa syarat-syaratnya, terutama pada kalimat “Pengakuan akan kontribusi seseorang ditentukan bukan berdasarkan latar belakang pendidikannya, melainkan kontribusinya”. Mungkin bagi mas DonnyBU yang telah lama berkecimpung dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, kecerdasan seseorang apalagi yang sudah mencapai tahap pakar, memiliki tanggung jawab moral dan sosial, yaitu menyalurkan kembali ilmunya kepada masyarakat yang telah menganugerahi seseorang yang dianggap mumpuni dengan gelar, Pakar.

Bagaimana dengan Anda?


Responses

  1. […] source : mahadarmaworld.wordpress.com Rate this: FacebookTwitterLike this:LikeBe the first to like this post. Category : Bimbingan […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: