Posted by: mahadarma | January 18, 2011

Ngopi di "Starbucks Coffee" tanpa "Starbucks Coffee"

Ada yang menarik dari sekedar hilangnya kata “Starbucks Coffee” dari logo “Starbucks Cofee” yang ternyata menimbulkan kecaman dari beberapa penggemarnya yang juga memperhatikan detil perubahan sebuah perusahaan.

Starbucks Coffee dan gerai kopi lainnya seperti Coffee Bean, Coffee Club, sudah menjadi trend metropolitan, tentang gaya hidup minum kopi yang mewah. Ada eksklusivitas yang dijual disana. Sesuatu yang menjadi trend dan gaya hidup tentu melibatkan sebuah hubungan emosial antara produsen dan konsumen.

Logo perusahaan tentu tidak sekedar logo, ada pertimbangan tertentu dan analisa di dalam pembuatannya. Ada semacam visualisasi visi-misi perusahaan, atau istilahnya embodying. Begitu juga sebaliknya, kinerja perusahaan juga cermin aktualisasi dari logo perusahaannya. Logo adalah brand, trademark.

Menurut situs Kapita Selekta, ada beberapa alasan sebuah merubah logo perusahaan, yaitu: alasan finansial, adanya kepemimpinan baru, analisa prospektif pasar, dan merger. Sementara, dari segi logo, bisa jadi karena, identitas dari perusahaan tersebut tidak dapat mewakili pelayanan dari perusahaan tersebut, perusahaan tersebut sudah memiliki reputasi yang buruk di mata masyarakat, perusahaan tersebut ingin memberikan sesuatu yang baru, berupa pembenahan dalam perusahaan.

Bisa dipahami bahwa perubahan logo yang dilakukan Starbucks adalah untuk menjangkau diversifikasi produknya ke depan, yang tentu tidak hanya melayani Coffee, yang juga berarti mengembangkan sayap bisnis yang lebih luas. Banyak perusahaan yang melakukan perubahan logo dalam sebuah ikon dan terbukti sukses tidak terganggu, ada Apple, Nike, sementara di Indonesia ada XL Axiata, Pertamina, Telkom, dll.

Bisa dibilang, perubahan logo hanya berdampak ke suasana internal perusahaan kecuali logo atau brand sebelumnya bermasalah di pasaran. Dampaknya adalah menciptakan suasana baru dan semangat baru yang tentunya diharapkan dapat berpengaruh pada kerja perusahaan itu sendiri. Menurut saya pribadi bukan sesuatu yang penting untuk merubah logo perusahaan hanya karena ingin diversifikasi produk, karena banyak perusahaan yang cukup sukses bukan? Bayangkan jika “Pizza Hut” harus berubah tanpa “Pizza Hut” karena menjual nasi dalam produknya, atau “Burger King” tanpa “Burger King” karena jual kentang goreng. Perubahan logo perusahaan juga akan berdampak pada hubungan emosional dengan konsumen yang sudah terbiasa dengan detil-detil perusahaan, dan ada banyak orang yang sangat tidak menikmati perubahan meski ada pepatah bisa karena terbiasa.

Dalam hati pemangku kebijakan perusahaan.. “Ah mereka pun akan terbiasa..” (seperti perubahan pada Kompasiana)

Saya sendiri hanya mampu membayangkan gimana rasanya minum kopi di Starbucks tanpa “Starbucks kopi”.. Drink Coffee in Starbucks Coffee without “Starbucks Coffee”?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: