Posted by: mahadarma | January 18, 2011

Menanti Nasional Demokrat Melepas Syahwat


Tahun 2011 adalah Tahun Politik, meskipun bung Anas Urbaningrum, ketua umum Partai Demokrat, mengatakan sebagai Tahun Kerja Nyata. Pemilu 2014 memang masih jauh, tapi kerja politik menuju ke sana, dimulai dari tahun ini. Sejak disahkannya Revisi UU Partai Politik pada 16 Desember lalu, sesuai agenda dari Kemenkumham yang akan membuka pendaftaran pada 17 Januari 2011, maka tiap parpol yang akan maju di 2014 harus mendaftar sebelum Juli 2011. Yang artinya memiliki waktu hingga 6 bulan ke depan.

Terkait dengan pendaftaran parpol, menarik mencermati arah perubahan yang terjadi di Nasional Demokrat (NasDem), sebuah organisasi massa bentukan Surya Paloh yang kata sebagian pengamat sebagai organisasi pelipur lara, atau organisasi sakit hati. Sejak awal pembentukan, NasDem menjadi perhatian masyarakat luas termasuk pengamat politik. Baik dikarenakan pendirinya adalah Surya Paloh, dan banyak politisi lintas partai yang bernaung di bawahnya serta adanya sorotan media yang kuat, terutama sebuah stasiun televisi yang pernah dipimpin Surya Paloh yang menguatkan aroma politik “terselubung” ini.

Meskipun para inisiator dan deklarator NasDem menyangkal akan mengarah ke pembentukan parpol dan tetap dalam koridor ormas, namun tak dapat disangkal jika NasDem memiliki kekuatan untuk menjadi parpol dan ada kecenderungan untuk itu. Saat ini pun, aktivitas NasDem sedikit banyak dipengaruhi pola untuk mencari konstituen dan basis massa demi melegitimasi evolusi dari ormas ke parpol.

Sebenarnya sah-sah saja sebuah ormas berevolusi jadi parpol, dalam kehidupan politik indonesia, tercatat beberapa ormas yang berhasil jadi parpol, sebut saja Boedi Oetomo, SI, PKI, namun sayang parpol dari ormas ini tak berumur panjang, dan umumnya hanya ormas berbasis agama yang kemudian jadi parpol yang bisa survive. Selain perbedaan definitif, ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebuah organisasi sebelum mendeklarasikan menjadi sebuah partai, seperti landasan organisasi, visi misi, dan tentu tokoh yang di”jago”kan yang mampu mewakili identitas partai. Ini perlu supaya partai tidak layu sebelum berbunga.

Bagaimana potensi NasDem yang mengusung isu Restorasi Indonesia?

Untuk menjadi sebuah parpol, butuh persiapan dan kalkulasi yang matang, dan jika memang tujuannya adalah mendapatkan kursi kekuasaan pada 2014, maka Nasdem memang seharusnya sprint dalam mengejar ketertinggalan karena partai lainnya telah bekerja sejak awal pemerintahan dan konsolidasi akan semakin menguat di tahun ini, termasuk yang harus diperhatikan NasDem adalah melengkapi persyaratan administratif sesuai Revisi UU Parpol antara lain, “kepengurusan pada setiap provinsi dan paling sedikit 75% (tujuh puluh lima perseratus) dari jumlah kabupaten/kota pada provinsi yang bersangkutan dan paling sedikit 50% (lima puluh perseratus) dari jumlah kecamatan pada kabupaten/kota yang bersangkutan”

Selain konsolidasi partai, tentu tiap partai juga akan menimang-nimang siapa kira-kira yang akan jadi “jago”nya. Partai politik di Indonesia sejauh ini memang mengandalkan “Figur Sentris” dan ini cukup penting selain figur untuk mewakili identitas parpol. Untuk wacana pencalonan bisa baca tulisan saya, “Isu Pencalonan dan Koalisi, Serangan Fajar di Suatu Pagi”

Dalam acara diskusi akhir tahun, “Indonesia 2011, Jogja 2011 : landskap politik sosial budaya” bersama bapak Indra J. Piliang, dikatakan bahwa bangsa ini mengalami kesulitan dalam mencari kader-kader pengganti sosok presiden pasca era SBY, Indonesia seperti kehilangan orang yang dianggap mampu di negeri ini. Ada banyak tokoh politik dan negarawan tapi mereka dianggap tak cukup baik dan populer, juga terjadi saling jegal dan menjatuhkan antara satu tokoh dengan tokoh lainnya.

NasDem sendiri punya 2 kelebihan yaitu memiliki Sultan dan Surya Paloh. Sultan yang saat ini berada dibawah naungan Golkar, tentu akan sulit bersaing untuk menjadi Capres jika vis a vis dengan Ical yang notabene memiliki kekuatan politik cukup besar dan kuat untuk menjadi Capres dari Golkar. Satu-satunya kendaraan politik yang bisa menampung dan mengangkat Sultan adalah NasDem. Sementara itu Surya Paloh memiliki beberapa sumber daya seperti media massa untuk mendukung pencitraan Sultan dan NasDem. Satu hal lagi, Sultan mempunyai pengalaman “drama politik” dengan pemerintah yang tidak dimiliki kandidat lain.

Sultan bisa saja memanfaatkan citranya sebagai sosok Raja yang sukses mengayomi dan membangun DI. Yogyakarta sekaligus korban kezaliman oleh pemerintah, dan ini bisa menjadi sebuah modal untuk mengambil simpati masyarakat luas. Andaikata NasDem beserta Sultan muncul menjadi parpol dan menjadi kekuatan politik baru, maka ini akan menjadi ancaman cukup serius bagi parpol lainnya. Momentum Konsolidasi Nasional NasDem pada tanggal 5 Februari 2011 akan menjadi penantian bersama, menantikan Nasional Demokrat melepas syahwat politiknya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: