Posted by: mahadarma | January 18, 2011

Damai = Tidak Semena-mena!

Damai seringkali ditafsirkan sebagai sikap persahabatan, sportifitas, namun tidak jarang damai berpijak di tempat yang salah demi menggapai kepentingan-kepentingan tertentu. Berbicara tentang damai dan perdamaian sepertinya tidak akan ada habisnya, namun yang jelas kita tidak boleh melupakan aspek rakyat, kepentingan umum dalam tataran norma yang telah disepakati, sebagai titik acuan perdamaian.

Seringkali kita mendengarkan dan melihat orang berpose dengan berkata “..Piss!” alias peace sambil mengacungkan dua jari (telunjuk dan jari tengah) seperti huruf “V” yang sebenarnya mewakili kata “Victory” (kemenangan). Lalu, apa sebenarnya makna “damai” itu sendiri? Menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, damai berarti tenang, tenteram, tidak ada perang. Dalam Kamus Politik, damai juga ditafsirkan sebagai kondisi dimana tidak ada peperangan, tenang, dan tenteram. Tidak salah sebenarnya, bahkan sangat benar jika definisi itu mengacu pada pemahaman riil dan kebahasaan dalam dua kamus tersebut.

Dalam pengertian politik seperti yang dipelajari dalam Studi Perdamaian, menekankan damai sebagai kondisi dimana tidak ada perang terbuka tetapi mungkin saja suatu saat muncul perang. “Damai” juga masih diklasifikasikan menjadi dua yaitu damai positif dan damai negatif, dimana “damai positif” diartikan kondisi tidak ada perang dengan potensi konflik sangat minim, sedangkan “damai negatif” bermakna sebaliknya. Dalam studi Hubungan Internasional pun diperkenalkan berbagai pendekatan dan teori yang mengkaji  mengenai perdamaian.

Damai dan perdamaian bagaikan sekeping uang yang bertolak belakang namun menyatu dengan sifat perang itu sendiri. Tujuan damai sendiri bisa bervariasi karena bisa saja orang berdamai −dalam pengertian kondisi tiada peperangan/konflik− karena beberapa hal seperti mengembalikan hubungan baik dua pihak atas kesalahan yang telah dibuat, atau karena rasa toleransi, tenggang rasa dan persahabatan; adapula berdamai dengan alasan mengalah untuk menang; untuk mendapatkan kesepakatan dalam konsensus tertentu atau rekonsiliasi; untuk bersatu dalam meraih tujuan tertentu karena memiliki kekuatan yang lemah sehingga kepentingannya tidak terartikulasikan sehingga memilih untuk berdamai; atau tujuan-tujuan lainnya yang absurd.

Terlepas darii berbagai definisi dan makna menurut konteks pemahamannya, ada satu definisi yang pernah saya temui di jalan yang menurut saya ada benarnya jdan menarik juga. Definisi itu bahkan bisa bertolak belakang dengan berbagai konteks pemahaman yang telah disebutkan diatas. Disitu “damai” diartikan sebagai perbuatan yang tidak semena-mena, bahwa “Damai itu berarti tidak semena-mena”, semena-mena sendiri diartikan sebagai sikap yang menuruti kehendaknya sendiri atau sewenang-wenang. 

Saya menyukai definisi tersebut, yang menurut saya lebih mewakili hidup saya, bangsa Indonesia, dan rakyat Indonesia. Kaitannya dengan perdamaian adalah kita sebagai rakyat selalu diperlakukan semena-mena, yang berarti pemerintah “tidak damai” dengan rakyat. Contoh paling dekat adalah carut marutnya penjualan tiket final AFF Cup di Stadion Gelora Bung Karno, atau kejadian laser di Bukit Jalil, Malaysia. Tidak ada damai disana.

Apakah ini bermakna bahwa tidak adil sama dengan tidak damai, tidak damai sama dengan anarki dan perang, sehingga menjadi justifikasi dan logika berpikir dan berperilaku masyarakat dalam tindakan kriminalitas serta berbagai gejolak sosial akhir-akhir ini? Apapun jawabannya, pada akhirnya damai diharapkan mampu menjadi nilai refleksi bagi para pejabat dan pembuat kebijakan negeri ini, karena jika damai hanya bermakna keamanan dan ketiadaan perang, maka bagi saya sendiri itu tidak cukup dan saya lebih memilih untuk berperang daripada berdamai, berperang untuk kemaslahatan rakyat, berperang untuk keadilan masyarakat bersama.

Meskipun kehidupan terkadang tanpa kejelasan arah seperti sifat “semena-mena” itu pula, ketika hari ini bisa saja damai dan bukan jaminan bahwa besok kita tidak akan di semena-menakan. Namun makna “damai”, bagi saya, tetap berarti kejelasan keadilan, tanpa kesewenang-wenangan dan berpihak kepada rakyat, bukan seperti pepatah politik yang mengatakan “tidak ada kawan atau lawan abadi, yang ada hanyalah kepentingan”, meskipun sekali lagi “damai” dan “perdamaian” mungkin saja bagian dari kepentingan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: