Posted by: mahadarma | November 30, 2010

Kepentingan Cina terhadap Eksistensi Korea Utara

12910871712071836864

Cina memiliki peranan yang sangat besar terhadap eksistensi dan keberlangsungan Korea Utara. Sejak Korea Utara mendeklarasikan kemerdakaannya pada tahun 1948 hingga perang Korea 1950-1953, pengembangan rudal nuklir, semuanya tak lepas dari campur tangan Cina. Apa yang menyebabkan Cina begitu melindungi Korea Utara, dan siapa sebenarnya yang lebih membutuhkan dari kedua negara tersebut, Korea Utara butuh Cina atau sebaliknya Cina sebenarnya yang butuh eksistensi Korea Utara. Berbagai dukungan baik diplomasi di PBB dan lingkungan internasional,  dan dukungan materiil telah dilakukan Cina kepada Korea Utara.

Namun demikian, tampaknya Cina tak berkeinginan terlibat lebih jauh dalam konflik semenanjung Korea yang terjadi akhir-akhir ini, dan mengedepankan proses diplomasi dengan Korea Selatan, dan meminta kedua Korea untuk menghentikan konflik. Cina juga mendorong adanya pembicaraan lebih lanjut melalui Six Party Talks, yang terdiri dari Amerika Serikat, Cina, Korea Utara, Korea Selatan, Rusia dan Jepang.

Hal ini diperkuat dalam dokumen yang dikeluarkan Wikileaks, yang menyebutkan bahwa Cina tak lagi ingin mempertahankan keberadaan Korea Utara dan cenderung lebih nyaman dengan peleburan (unifikasi) Korea, karena beberapa alasanyang menyangkut hubungan kedua Negara. Ada indikasi Cina mengalami tekanan dari negara-negara Barat, juga berusaha untuk menjaga citra positifnya dan berupaya memainkan peran lebih banyak dalam kancah internasional dan “mengamankan” pertumbuhan ekonominya.

Tanpa ingin memperdebatkan isi dan keaslian dokumen tersebut, saya melihat ada beberapa alasan Cina “butuh” terhadap Korea Utara dan berusaha mempertahankan eksistensinya.

1. Kepentingan ekonomi

Cina mengalami pertumbuhan yang sangat cepat dan signifikan dalam dasawarsa ini. Tahun 2009, Cina mencatatkan GDP sebesar 8.7%, sementara tahun 2010, Cina mencatatkan pertumbuhan ekonomi 9.5% yang dipicu oleh menguatya konsumsi dalam negeri dan corporate investment. sumber: http://bit.ly/fLZouL

Cina butuh kawasan yang stabil untuk memantapkan reformasi internal, pembangunan ekonomi yang baik, dan menaikkan posisi diplomasinya ke lingkungan internasional. Jika Cina berhubungan langsung dengan negara liberalism, yang dikhawatirkan adalah runtuhnya sistem yang dibangun Cina sendiri, karena gap antara pembangunan di negara liberalisme dan komunisme, seperti terjadinya migrasi ke negara yang lebih mapan dan sejahtera secara ekonomi. Tentu Cina tidak ingin hal ini terjadi dan lebih enak menyandang sebagai negara “pendonor” ke Korea Utara dan mengamankan kepentingan ekonominya.

Selain itu, ada kecurigaan tentang perdagangan senjata yang dilakukan Cina kepada Korea Utara, terutama materi nuklir. Jika ini terbukti, maka Cina seakan pisau bermata dua. Di satu sisi, melakukan perdagangan senjata, di sisi lain memberikan bantuan-bantuan kemanusian baik bahan pangan dan lain sebagainya dan menciptakan sebuah ketergantungan Korea Utara pada Cina.

2. Kepentingan Pertahanan dan Keamanan

Cina berusaha mempertahankan Korea Utara, baik dalam kondisi perang dan non-perang, setidaknya sudah dibuktikan dalam keterlibatan Cina pada Perang Korea 1950-1953, dan berbagai forum internasional. Dengan kebijakan luar negeri Cina saat ini, dan di tengah pembangunan ekonomi Cina yang pesat, Cina berusaha menghindari terjadinya perang Korea jilid II, karena dengan demikian tidak akan menyita energi dan ekonomi Cina. Andaikata terjadi perang sesungguhnya, tentu Cina tak semudah itu lepas tangan dan tetap mengupayakan eksistensi Korea Utara, meskipun dalam skala terbatas.

Cina membutuhkan Korea Utara untuk mencegah terjadinya strategi serangan darat ke darat yang bisa dilakukan kapan saja oleh Amerika Serikat melalui pasukannya di Jepang. Ini wajar menjadi ancaman pada Cina, mengingat Jenderal McArthur pada perang Korea 1950-1953, menawarkan opsi ke Presiden Amerika Serikat Harry S. Truman untuk melakukan serangan balik hingga ke Cina, meskipun ditolak saat itu.

 

3. Teori Efek Domino

Asia sebagai benua terbesar memiliki letak yang sangat strategis dan vital bagi siapa saja, terutama negara-negara besar yang memiliki kepentingan di kawasan ini, dan tak luput pula Cina sebagai negara terbesar di Asia.

Dalam perang ideologi, sebagai pengaruh bawaan Perang Dingin, ada sebuah kebijakan yaitu China Containment Policy, atau terjemahan bebasnya, Kebijakan Pembendungan Cina. Dasar dari kebijakan ini adalah hasil analisis para analis politik Cina tentang keinginan Amerika Serikat untuk menguatkan hegemoninya di Asia, salah satunya dengan cara melemahkan ekonomi Cina, dan mengurangi pengaruhnya di negara-negara yang berhubungan atau berbatasan dengan Cina. Kebijakan ini sebenarnya tak jauh berbeda jika tak ingin dibilang mengadopsi kebijakan yang aslinya dikeluarkan Amerika Serikat untuk menghindari efek domino dari Komunisme di Asia pasca Perang Dunia II.Efek Domino sendiri adalah sebuah konsep/teori yang diciptakan atas kekhawatiran Amerika Serikat dalam perang Dingin, terhadap pengaruh perkembangan Komunisme di Asia, yang beranggapan jatuhnya suatu rezim/negara akan berpengaruh pada negara lainnya seperti domino jatuh.

Ini pula yang menurut saya coba diadopsi oleh Cina dalam membendung Liberalisme, namun dengan pendekatan yang berbeda dari Amerika Serikat dan Barat. Tidak melalui bantuan ekonomi, maupun diplomatik, tapi cenderung ke bantuan militer,atau kerjasama militer. Ini terlihat dari beberapa kerjasama (kerjasama pertahanan) yang telah dijalin Cina dengan beberapa negara, sebut saja, Pakistan, Myanmar, Korea Utara, Vietnam.

Cina memiliki wilayah darat yang berbatasan langsung dengan 14 negara, yaitu: Burma, India, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Laos, Mongolia, Nepal, NorthKorea, Pakistan, Russia, Tajikistan, Vietnam, Afghanistan, dan Bhutan. Sementara perbatasan lautnya berhubungan langsung dengan Jepang, Taiwan, Filipina, dan beberapa negara Asia Tenggara lain di laut Cina Selatan. Jika dilihat di peta, maka hampir sebagian wilayah yang berbatasan dengan Cina telah di”kuasai” dan dikepung Amerika Serikat, seperti India, Kazakhstan, Korea Selatan, Jepang, Taiwan. Cina memiliki kepentingan secara geopolitik, dan

4. Buffer Zone Liberalisme

Terkait dengan China Containment Policy dan menghindari Efek Domino, China membutuhkan Korea Utara sebagai buffer zone (zona penyangga), untuk membatasi infiltrasi liberalism. Mengacu pada sejarah, keberadaan Korea Utara sebagai akibat pemisahan dua Korea adalah ide Uni Soviet di konferensi Yalta Februari 1945, yang kemudian disetujui oleh AS. Uni Soviet-lah yang pada awalnya membutuhkan Korea Utara sebagai buffer zone Eropa, sebagai balas budi berperang dengan AsSmelawan Jepang. Namun melihat perkembangan pasca Perang Dingin dan runtuhnya Uni Soviet, maka Cina-lah yang paling membutuhkan saat ini.

Empat alasan ini yang menurut saya cukup dominan terkait kebijakan luar negeri Cina terkait Korea Utara yang hingga saat ini masih terlihat dengan jelas. Seiring berjalannya waktu, bisa saja kebijakan Cina akan berubah, dan muncul analisa-analisa lain yang dapat menjelaskan dengan lebih rinci dan mungkin berbeda dengan penjelasan-penjelasan diatas.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: