Posted by: mahadarma | October 23, 2010

Mendidik Anak dengan (tanpa) Kekerasan

Tulisan ini terinspirasi ketika saya melihat sendiri sebuah kekerasan pada anak oleh ibu-nya di dalam kereta api yang saya gunakan. Tulisan ini adalah kumpulan twit saya saat kejadian itu, namun saya tertarik untuk mendokumentasikan dan membagikan ke rekan-rekan sekalian.

 

Ceritanya waktu itu, ada keluarga dengan dua anak, yang sulung cowok berumur sekitar 5 tahun, adiknya cewek sekitar umur 3 tahun, baru saja naik dari stasiun, dengan Pede-nya sang ibu memukul dengan gagang kipas sate yang dari bambu ke jidatnya si sulung hanya gara masalah, yang menurut saya sepele, sandal sang adik yang diamanatkan pada sang kakak ternyata tertinggal di stasiun.

Ada perasaan iba pada anak tersebut, namun karena memang tak bisa berbuat apapun, akhirnya saya memutuskan untuk menuliskan kejadian tersebut pada akun twitter saya.

Saya adalah orang yang dididik dengan kekerasan, baik dari lingkungan keluarga maupun lingkungan sosial. Saya akui pribadi saya yang keras, namun saya tidak ingin mewarisi sifat ini pada orang lain apalagi anak saya. Ada masa dimana saya merasa bahwa kekerasan kadang bisa menjadi jalan keluar, tapi ada pula dimana saya merasakan bahwa kekerasan tidak akan menghasilkan apa-apa, selain kekerasan pula. Apa yang saya tuliskan disini bukan berarti saya pintar dan sukses dalam mendidik anak, bukan, tapi sebagai upaya mengingat dan refleksi diri.

Senakal apapun anak Anda, selama tidak melanggar hukum negara maupun agama, jangan pernah berlaku kasar & main pukul, apalagi pada anak kecil yang notabene merupakan kewajiban Anda sebagai orangtua untuk mendidiknya. Perilaku Anda mencerminkan mental dan intelektualitas, tingkat kesiapan dan kedewasaan sebagai orangtua.

Keras, tegas, dan kasar adalah hal yang beda, jadi jangan dicampuradukkan atau disamakan pemaknaan serta penggunaannya. Jangan sia-siakan anak Anda, atau jangan salahkan jika suatu saat dia membenci Anda selamanya! Bersikap tidak adil, pilih kasih, kasar, main tangan, sangat tidak sarankan dalam mendidik anak.  Tiap apa yg Anda lakukan, kalaupun tidak diingat secara sadar, bisa jadi di alam bawah sadar, sehingga memicu anak bertindak sesuai patronnya suatu saat.

Bisa jadi kekerasan di jalan atau di lingkungan manapun, semua berawal dari pola asuh yan salah dari lingkungan keluarga, dan masing-masing dari kita punya kontribusi dalam pendidikan dalam lingkungan terkecil, keluarga. Tentunya sebagai orangtua kita harus memberikan pola asuh yg benar. Nah, apakah sudah dilakukan dari masing-masing kita yang menjadi orangtua?

Setiap goresan yg kita ciptakan dengan didikan akan membekas selamanya. Seperti mengukir pada batu, yang tentu susah pula menghapusnya. Kekerasan pada anak hanya akan berakibat buruk pada sang anak, menciptakan kekerasan yang berulang dan menurun (generatif), berperilaku beringas, asosial, minder, dan bisa juga intimidatif terhadap sesama. Jadi, berhati-hati dengan apa yang kita lakukan dan ucapkan jika tidak ingin hal tersebut dikembalikan ke kita suatu saat nanti. Misal, orangtua kerap mengatakan bodoh pada sang anak, kemudian dibalas lagi oleh sang anak, orangtua marah karena tersinggung,..tak ada habisnya. Dan seperti hukum pegas, semakin keras kita pada anak, bisa jadi makin keras resistensi mereka terhadap kita. Namun jangan lupa, dalam mendidik anak, kita tidak bisa menggunakan satu cara, meminjam istilah pak Imam Prasodjo, menggunakan kunci Inggris untuk menyelesaikan semua permasalahan.

Anak adalah aset yang kelak diharapkan membanggakan ortu, dan mendoakan ortu ketika tiada. Anak adalah harta tak ternilai. Pernah Anda bayangkan berapa harga seorang anak? Pernah Anda bayangkan sepinya keluarga tanpa anak. Betapa banyak orang berupaya dengan segala cara, ke dukun, dokter, adopsi, supaya dapat memiliki anak. Berapa banyak keluarga hancur, pasangan cerai karena ketiadaan anak? Lalu anda menyia-nyiakan mereka?

Dalam ajaran Islam ditegaskan bahwa anak adalah titipan dari-Nya, bisa menjadi sebuah anugerah maupun cobaan. Sementara Kahlil Gibran berkata, Anakmu bukan Milikmu. Lalu, apa yg akan Anda katakan pada Tuhan karena telah sewenang-wenang pada anak? Tengok anak Anda.. Coba lihat baik-baik, itu hanya titipan kawan!

Ketika banyak orang bilang, kapan terakhir kali Anda mencium orangtua Anda, lalu kapan terakhir kali Anda mencium/memeluk anak Anda? Atau sekedar menengoknya di kamar? Menemaninya melakukan hal-hal yang ia sukai? Mendengarkan segala keluh kesahnya hari ini? bukan hanya jadi tempat meminta uang. Pernahkah anda dampingi anak anda, sekedar tau apa yg ia baca kemudian sharing?  atau cerita konyol-konyolan like just friends?

Atau jangan-jangan para orang tua sibuk dengan koran, smartphones, televisi, pekerjaan, dan lain sebagainya. Sang Ayah nonton program politik & kriminal, sementara ibu nonton sinetron yang isinya kekerasan juga. Di sekolah di”ajarkan” kekerasan, di lingkungan sosial marak tawuran. Pas dah! Besok anak jadi preman! Ini juga adalah salah satu akibat dimana kekerasan menjadi komoditi dan konsumsi, dimana-mana media menyajikan kekerasan.

Ga usah jauh-jauh bicara hukum positif atau tentang agama, bicara saja dari nurani. Sangat tidak normal jika ada seorang ibu yang tega melukai dan menyakiti anaknya sendiri. Semoga para orangtua sadar anak hanya titipan, bisa jadi esok, atau hari ini, ia pergi..kembali pada yang memiliki. Tak ada guna disesali.

Apakah rekan-rekan pernah membaca sebuah cerita cukup terkenal tentang seorang anak yang membeli waktu dari ayahnya? Berikut ceritanya saya ambil dalam sebuah blog,

“Seperti biasa Rudi, pegawai di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Imron, putra pertamanya yang baru duduk di kelas dua SD yang membukakan pintu. Ia nampaknya sudah menunggu cukup lama.

“Assalamu ‘alaikum. Kok, belum tidur, nak?” sapa Rudi sambil mencium anaknya. Biasanya, Imron memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari. Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang keluarga, Imron menjawab, “Wa’alaikum salam. Aku nunggu Ayah pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Ayah?”

 “Lho, tumben, kok nanya gaji Ayah? Mau minta uang lagi, ya?” “Ah,
enggak. Pengen tahu aja.” “Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Ayah bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp 400.000,-. Dan setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja. Jadi, gaji Ayah dalam satu bulan berapa, hayo?”

 Imron berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar,
sementara ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Rudi beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Imron berlari mengikutinya. “Kalau satu hari ayah dibayar Rp 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam ayah digaji Rp. 40.000,- dong,” katanya.

 “Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, bobok,” perintah Rudi.
Tetapi Imron tak beranjak. Sambil menyaksikan ayahnya berganti pakaian, Imron kembali bertanya, “Ayah, aku boleh pinjam uang Rp 5.000,- nggak?”

“Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Ayah capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah.” “Tapi, Ayah…”

Kesabaran Rudi habis. “Ayah bilang tidur!” hardiknya mengejutkan Imron.

Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya. Usai mandi, Rudi nampak menyesali hardikannya. Ia pun menengok Imron di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Imron didapatinya sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp 15.000,- di tangannya. Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Rudi berkata, “Maafkan Ayah, nak.

Ayah sayang sama Imron. Buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok’ kan bisa. Jangankan Rp 5.000,- lebih dari itu pun ayah kasih.”

“Ayah, aku nggak minta uang. Aku pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini.” “Iya,iya, tapi buat apa?” tanya Rudi lembut. “Aku menunggu Ayah dari jam 8. Aku mau ajak Ayah main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang kalau waktu Ayah itu sangat berharga. Jadi, aku mau beli waktu ayah. Aku buka tabunganku, ada Rp 15.000,-. Tapi karena Ayah bilang satu jam Ayah dibayar Rp 40.000,-, maka setengah jam harus Rp 20.000,-. Duit tabunganku kurang Rp 5.000,-. Makanya aku mau pinjam dari Ayah,” kata Imron polos. Rudi terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat”

sumber gambar: http://bit.ly/9RsBqK


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: