Posted by: mahadarma | October 22, 2010

Pembodohan Sistematis dan Degeneratif dalam Institusi Pendidikan

Miris rasanya ketika hari ini saya baca artikel di sebuah situs berita,

“Diduga karena emosi kepada muridnya, seorang guru sekolah dasar di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, tega menganiaya belasan siswanya….” (http://bit.ly/a0bAhE)

Lagi-lagi kekerasan dalam institusi pendidikan terjadi, dan berulangkali hal seperti ini terjadi, dan dalam banyak kasus pemerintah seringkali menutup-nutupi atau melakukan pembelaan terhadap para pengajar yang kurang ajar.

Sebenarnya apa yang ingin saya tuliskan masih ada kaitannya dengan tradisi kekerasan dalam dunia pendidikan yang sering dijumpai dalam Ospek, MOS, dan berbagai macam aktivitas pendidikan lainnya yang menggunakan kekerasan. Tulisan ini terinspirasi oleh diskusi dengan adik saya serta pacarnya yang kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri.

Saat itu, pacar adik saya mengeluhkan sistem senior-junior yang diterapkan dalam aktivitas intern kampus, kemudian saya tertarik untuk membahasnya dan mengkaitkannya dengan perilaku anarki yang sering terjadi akhir-akhir ini dalam institusi pendidikan.

 

Kakak sepupu saya yang saat ini menjadi mahasiswa baru di sebuah perguruan tinggi negeri sempat mengeluhkan hal ini di facebook-nya,

 “Knp sich LDK tu pasti berhubungan erat dengan dimarah2in??Apa gag ada cara lain untuk membentuk mental selain dimarah2in??????”

Dan ketika ditanya apa alasannya melakukan bentak-bentak, alasan dari para senior adalah, “Untuk membangun mental2 para maba, supaya gak keok ketika dimarah-marahi”. Sebuah logika terbalik, dan jauh dari nalar. Memangnya mahasiswa ini taruna TNI? Siapa yang mau memarah-marahi mahasiswa?

Adik saya, kuliah di bidang teknik dan sudah jadi rahasia umum bagaimana “kejam”nya ospek di lingkungan teknik, adalah orang yang pro penerapan kekerasan yang ia anggap sebagai bentuk ketegasan dalam melatih mental dan kedisiplinan junior-junior di kampusnya, untuk menciptakan sebuah hubungan saling menghormati antara yang muda dan yang tua, saling kenal, dan saling membutuhkan nantinya baik semasa kuliah atau dalam ikatan almamater. Alasan lain adalah studi yang mereka tempuh akan dihadapkan pada lingkungan dan iklim kerja yang keras, sehingga pendidikan sejak menjadi mahasiswa baru dengan berbagai macam metode termasuk kekerasan menjadi upaya untuk membentuk jati diri tersebut. Selain itu, hal ini diharapkan dapat membuat mahasiswa lebih kreatif dan berpikiran out of the box ketika dalam suasana tertekan.

Menurut adik saya dan para seniornya, hal ini terbukti efektif dalam mempersatukan dan menguatkan ikatan almamater mereka, dan belum ada cara lain yang terbukti efektif yang bisa mereka terapkan. Memang perlu diakui ada sebagian dari mereka yang merasakan manfaat dengan adanya bentak-membentak, tapi hal ini tentu tidak dapat dijadikan patokan. Dan bagi saya ini sebuah lelucon konyol bin tolol untuk melegitimasi budaya-budaya kekerasan dalam pendidikan, yang mana masih banyak cara yang lebih baik dan beradab dalam lingkungan intelektual pendidikan.

Pertanyaan menggelitik yang diajukan oleh adik saya, apa definisi kekerasan, karena tiap orang mengartikan secara berbeda. Tanpa mengacu pada referensi tertentu, saya jawab, bahwa kekerasan ada fisik maupun non fisik, tiap hal yang dilakukan yang mengakibatkan seseorang merasa terintimidasi adalah sebuah kekerasan.

Ketika Anda diwajibkan mengikuti sebuah kegiatan di masa pra-sekolah/kuliah, dan Anda merasa terintimidasi karena harus bangun pagi dan membawa sejumlah peralatan, itu adalah sebuah kekerasan. Ketika Anda dijelaskan melalui perintah-perintah yang membuat Anda menjadi inferior, ini adalah kekerasan.

Yang saya heran adalah bagaimana mereka para senior punya wewenang dan legitimasi untuk melakukan hal-hal yang tidak ada dalam pendidikan? Saya berdebat cukup sengit dalam poin ini. Adik saya, sesuai doktrinasi dari kampusnya tentunya, mengatakan bahwa senior memiliki kewajiban, setidaknya tanggung jawab moral, untuk melakukan transfer ilmu, karena merasa memiliki dan menjadi bagian dari institusi kampus dan lingkungannya seakan telah menjelma menjadi sebuah keluarga. Bagi saya ini juga tidak logis, karena pendidikan formal tidak mengenal pola ini, selain itu  tidak sesuai dengan definisi Tenaga Pendidik dan/atau Pendidik pada pasal 1 poin 5,dan 6, pasal 42, pasal 43 UU no 20/2003. Lalu jika tidak ada dasar hukumnya, apa yang dijadikan landasan wewenang mereka?

Bagaimana bisa seseorang meng-klaim memiliki sebuah institusi pendidikan negeri hanya karena bernaung menimba ilmu di dalamnya?  PTN dibawah Diknas tentunya, sementara PTS dibawah Yayasan, dan dalam pengelolaannya tidak boleh menyalahi UU Sisdiknas. Dengan membayar uang kuliah bukan berarti Anda memiliki kampus Anda, dengan menjadi mahasiswa tidak serta merta menjadikan Anda bagian dari kepemilikan kampus. Menjadi warga dalam sebuah komunitas tidak kemudian secara otomatis menjadikan Anda pemiliknya.

Saya sendiri pernah mengalami kekerasan saat masih SMP di Ambon, dimana hukuman fisik sudah jadi trademark dalam punishment. Saya juga pernah melakukan bullying saat MOS (Masa Orientasi Siswa) di SMU, dan ini kemudian saya sadari ketika saya beranjak kuliah, bahwa pola-pola pendidikan seperti ini harus dihapuskan karena jauh dari esensi dan tujuan pendidikan itu sendiri. Pendidikan bertujuan membentuk manusia intelektual, dalam UU no 20/2003 tentang  Sisdiknas, dinyatakan:

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk  berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab

Apakah dengan kekerasan dapat membentuk pribadi yang beradab, bermartabat dan cerdas? Kekerasan adalah bagi saya adalah penyakit, dan orang yang menerapkannya bisa dikatakan sakit, ya sakit keuturunan (degeneratif) secara mental tepatnya. Jadi maaf, nalar dan nurani saya terlalu dangkal untuk memahami legitimasi kekerasan dalam institusi pendidikan. Pendidikan itu harus FUN, mendidik, dan diterima secara akal dan nurani. Sejauh yang saya tahu pendidikan di dunia barat yang acapkali dijadikan acuan sebuah peradaban, pun tidak mengenal hal-hal seperti ini. Saya jadi bertanya sendiri, jangan-jangan mahasiswa itu anarki karena memang dikenalkan dengan cara yang sedemikian rupa ketika awal mengenal kampus?

Kekerasan dalam dunia pendidikan itu ibarat militerisasi sipil, cerminan budaya kolonialisme dan feodal. Saya akan merasa sangat terhina jika anak saya mengalami perlakuan-perlakuan yang tidak sesuai dengan tujuan pendidikan itu sendiri. Anda bisa lihat sebagian dari foto-foto yang menurut saya mencerminkan sebuah ketololan

 

Kalau Anda melihat foto-foto tersebut dan tertawa, berarti Anda sakit. Ini adalah bentuk penghinaan dari sebuah status sosial seseorang, intelektualisme, dan institusi pendidikan itu sendiri. Kalau Anda merasa bahwa kegiatan-kegiatan tersebut hanya sekedar for FUN, maka Anda lebih sakit lagi, penghinaan terhadap martabat seseorang kok dianggap FUN.

 Musyafak Aktif dalam Menghapus Budaya Kekerasan Ospek berpendapat bahwa,

“Sekali lagi, proses mendewasakan mahasiswa baru yang meliputi kedisiplinan, kemandirian, dan penyadaran diri bahwa peserta adalah seorang mahasiswa sangat tidak tepat jika dilakukan dengan cara yang tidak manusiawi. Dengan bahasa persuasif, kalau bisa lembut mengapa harus kasar?

Kekerasan sudah seharusnya ditolak dan dibuang jauh-jauh dari dunia kampus. Karena kekerasan hanyalah berbuntut kekerasan pula. Kekerasan dalam Ospek, misalnya, justru membekali mahasiswa dengan emosionalitas, bukan pembekalan intelektualitas, spiritualitas, dan humanitas yang menjadi sarat keselarasan pendidikan. Sehingga mahasiswa cenderung menggunakan cara-cara kekerasan dan mengedepankan emosi dalam menyelesaikan masalah.Juga, simbol-simbol senioritas antara panitia dan peserta Ospek sangat tidak perlu untuk ditampakkan. Dan sudah selayaknya istiah senior-yunior dihapus dari dunia kampus. Karena di samping membuka peluang kekerasan, hal itu justru melunturkan integritas intelektual mahasiswa. Karena mahasiswa adalah pemikir dan generasi yang akan membangun bangsa ini, sehingga harus dibekali dengan daya intelektualitas, bukan diajari kekerasan layaknya preman.”

Kekerasan dalam institusi pendidikan harus diputus. Mulai dari mana? dari mana saja yang menerapkan pola-pola seperti ini sebagai ajang pengenalan lingkungan, pembentukan mental dan kedisiplinan. Banyak cara, metode dan pendekatan untuk mendapatkan tujuan dengan menghindari praktik-praktik kekerasan yang hanya akan menciptakan pola serupa dan sistematis. Yang harus dilakukan adalah merubah pola pikir atau mindset mengenai dampak postif penerapan kekerasan, pola pikir bagaimana mencapai tujuan dalam pendidikan yang sebenar-benarnya, tidak hanya dalam pendidikan formal, namun dalam segala aspek kehidupan dan pendidikan.

Semoga Bermanfaat!

Catatan:

– Anda bisa mencari lebih banyak lagi gambar-gambar seperti ini melalui Google dengan kata kunci, OSPEK atau MOS.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: