Posted by: mahadarma | December 27, 2011

Konservasi Sumber Daya Air

Proyeksi Kelangkaan Air

“I believe water will be the defining crisis of our century, the main vehicle through which climate change will be felt from droughts, storms, and floods to degrading water quality. We’ll see major conflicts over water; water refugees. We inhabit a water planet, and unless we protect, manage, and restore that resource, the future will be avery different place from the one we imagine today”

-Alexandra Cousteau-

Air adalah elemen penting yang menjamin eksistensi kehidupan di bumi. Air memiliki nilai berdimensi ekonomi, politik, sosial dan budaya, sehingga menjadi komoditas yang diperebutkan, dan menjadi sumber konflik horisontal maupun internasional.

Kondisi air saat ini menjadi perhatian global karena akses, kuantitas dan kualitas air semakin menurun oleh berbagai penyebab. Untuk mencegahnya, dipandang perlu untuk dilakukan konservasi dan upaya-upaya penghematan sumber daya air, penanaman kesadaran melalui pendidikan dan sosialisasi terkait sumber daya air.

Air saat ini telah digunakan secara meluas meliputi rekreasi, dan industri, melebihi sejarah awal penggunaan air yang hanya untuk konsumsi, pertanian dan transportasi. Tanpa disadari -sedikit banyak juga disebabkan pemahaman yang salah terkait air sebagai sumber daya alam tak habis- pemanfaatan air secara berlebihan telah berdampak pada ketidakcukupan air untuk dapat dikonsumsi oleh manusia di dunia.

Ketersediaan air dipengaruhi oleh beragam faktor, baik populasi manusia yang mencapai 7 milyar, pemanasan global, berkurangnya hutan, perubahan cuaca yang ekstrim, bencana alam, dan lain sebagainya.

Meskipun air adalah komposisi terbesar di bumi (berkisar 70%), namun yang dapat dipergunakan oleh manusia hanyalah 0,7%, baik berupa air tanah dan air permukaan, sisanya 97,2% lautan dan 2,1% es di kutub.

water management

Dari sumber air yang dapat diakses manusia, air tanah-lah yang memiliki kualitas baik. Air tanah adalah air hujan yang meresap masuk ke dalam bumi dan tersimpan dalam lapisan akifer dan dalam kondisi jenuh. Air tanah dibedakan menjadi air tanah dangkal dan air tanah dalam. Air tanah menjadi penting karena sangat mudah diambil, tidak tercemar, dan belum banyak dieksplor, sedangkan pemanfaatan air tanah secara berlebihan berdampak pada struktur tanah dan cadangan air tanah.

Air Tanah

Air Tanah

Perkembangan Kondisi Air
Pada tahun 2025 beberapa wilayah di dunia di proyeksikan mengalami kelangkaan air (lihat gambar proyeksi kelangkaan air). Kelangkaan air adalah kurangnya air yang cukup baik secara kuantitas atau kurangnya akses ke air bersih secara kualitas. Sepertiga dari jumlah penduduk dunia tidak memiliki akses air untuk kebutuhan sehari-hari mereka.

Water Down

Ada dua macam kelangkaan air, yaitu “kelangkaan air ekonomi”, ketimpangan distribusi sumber daya untuk berbagai alasan, termasuk konflik politik dan etnis; dan kelangkaan air fisik, adalah keterbatasan akses ke sumber daya air. Ketika permintaan melebihi kemampuan tanah untuk menyediakan air yang dibutuhkan, maka disebut memiliki kelangkaan fisik. Lihat penjelasannya dalam video dibawah ini.

Selain faktor alam, faktor manusia juga berperan dalam peningkatan kelangkaan air, misal privatisasi sumber daya air, industri air minum kemasan, perubahan kawasan resapan air menjadi pemukiman, ketidakjelasan kebijakan negara dalam penguasaan dan pengelolaan air, lemahnya koordinasi lintas departemen dalam penanganan lingkungan, dan lain-lain.

Pertambahan penduduk berdampak sangat signifikan terhadap tingkat penggunaan air, yaitu 6 kali lipat dari sebelumnya, lebih dari satu per enam orang di dunia tidak memiliki akses terhadap air minum, lebih dari dua per enam orang kekurangan sanitasi yang memadai, dan 3900 anak-anak mati karena penyakit bawaan air [water borne disease].

Di Indonesia, menurut WALHI, 125 juta [65%] penduduk Indonesia tinggal di Pulau Jawa yang kapasitas kandungan airnya hanya 4,5% saja. Sedangkan 60 dari 470 DAS dalam kondisi krisis.

Air saat ini lebih banyak digunakan untuk pertanian dibandingkan lainnya. Air untuk pertanian mencapai 66% dari total penggunaan air manusia, sisanya 10% untuk keperluan domestik, 20% industri, dan 4% evaporasi. Kelangkaan air mempengaruhi keamanan dan ketahanan pangan serta angka harapan hidup manusia.

Konflik Air
Menyadari begitu vitalnya air serta akses yang terbatas, wajar bila air jadi rebutan. Konflik sumber daya air sudah menjadi perhatian banyak pihak karena menjadi ancaman langsung bagi manusia. Di Indonesia sendiri ada beberapa konflik horisontal antar masyarakat seperti yang terjadi di Maluku Utara, Malang, Cisamala, Padarincang dan lainnya.

War of Water

Sejarah juga mencatat banyak konflik air antar-negara, sebut saja konflik di Dataran Tinggi Golan di Timur-Tengah, konflik Cina-India soal sungai Brahmaputra, konflik air di Afrika, beberapa sumber mencatat konflik air telah ada sejak Era Sumeria Kuno [3000 SM], bahkan ada yang menyebutkan air adalah minyak di abad 21.

Water, Oil of the 21t Century

Indonesia memiliki beberapa peraturan yang menjadi payung hukum yang berkaitan dalam pengelolaan air, yaitu:

  1. UU no 7/2004 ttg Sumber Daya Air
  2. UU no 41/1999 ttg Kehutanan
  3. UU no 32/2009 ttg Pengelolaan Lingkungan Hidup
  4. UU no 5/1990 ttg Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya
  5. PP no 43/2008 ttg Air Tanah

Sayangnya, beragam produk ini tidak serta merta berpihak pada kesejahteraan rakyat kecil, terutama UU no 7/2004, sehingga muncul dukungan untuk merevisi aturan tersebut. Namun demikian, terlepas dari kegagalan pemerintah, masing-masing individu harus memiliki kesadaran dan tanggung jawab moral terkait pengelolaan air.

Air di Jogja
Erupsi gunung Merapi pada tahun 2010 juga berdampak pada sumber daya air di Yogyakarta. Bencana tersebut turut mencemari dan menurunkan kualitas mata air, terutama di pemukiman warga sekitar lereng Merapi, serta merusak vegetasi di kawasan resapan air. Munculnya beragam kegiatan penghijauan di lereng Merapi, baik karena latah maupun peduli lingkungan, ternyata masih menyimpan banyak kekurangan, antara lain: pola tanam yang tidak sesuai, dan kesalahan dalam menentukan jenis tanaman vegetasi, misal trembesi.

Selain karena bencana alam, meningkatnya angka kepadatan penduduk kota Jogja, perubahan kawasan resapan air menjadi pemukiman, hilangnya lahan hijau, juga berdampak pada sumber daya air. Menurut grafik dibawah ini, kondisi air tanah di Yogyakarta telah mengalami penurunan selama 30 tahun terakhir.

kawasan resapan air

Disahkannya Perda no 2 tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi DIY 2009-2029 yang memetakan wilayah DIY sesuai peruntukannya, merupakan upaya positif dan produktif dalam melindungi sumber daya air dan kawasan resapan air.

Tata Ruang DIY

Konservasi SDA
Banyak hal yang bisa dilakukan untuk merawat SDA sedini mungkin, berikut adalah beberapa inisiatif dari para ahli untuk menyelamatkan air dan sumber daya air,

- Prof. Dr. Sari Bahagiarti Kusumayudha dalam Workshop Bincang Air,

“Bersama-sama menyosialisasikan air adalah vital, meskipun jumlahnya tetap, tetapi perebutan semakin banyak. Maka perlu adanya konservasi, dari yang sederhana mulai dari kita sendiri”

- LSM Kehati,

  1. Selektif dalam memilih produk yang menggunakan air secara tinggi.
  2. Memperlambat laju run-off air.

- Prof. Dr. Ir. Robert M. Delinom M.Sc.,

  1. Peningkatan upaya pelestarian dan perlindungan sumber daya air
  2. Perencanaan dan pelaksanaan program hemat air
  3. Pembuatan peraturan dan ketentuan hak guna air
  4. Pengendalian alih fungsi lahan pertanian beririgasi
  5. Pembentukan suatu lembaga tingkat nasional untuk mengatur dan mengurus sumber daya air
  6. Penyesuaian kebijaksanaan sumber daya air.

Sedangkan untuk memperbaiki kondisi dan lingkungan air tanah yang telah mengalami kerusakan, perlu dilakukan upaya pemulihan yang dapat dilakukan dengan cara:

  1. Menghentikan atau mengurangi pengambilan air tanah, penentuan ulang prioritas peruntukan pemanfaatan air tanah, dan mengusahakan pasokan air bersih yang berasal dari sumber air lain di daerah yang tingkat kerusakan air tanahnya termasuk dalam kategori rawan, kritis, atau rusak, dan mengurangi izin pembangunan industri yang memerlukan air sangat banyak.
  2. Membuat imbuhan air tanah buatan, yaitu membuat sumur-sumur imbuhan buatan, baik di daerah imbuhan maupun di daerah lepasan air tanah, pelestarian hutan, danau dan situ; serta penataan ladang/kebun dan kavling perumahan.
  3. Menetralisasi pencemaran air tanah, yakni dengan membuat sumur injeksi di lokasi yang air tanahnya tercemar.
  4. Merehabilitasi daerah imbuhan air tanah dengan melakukan reboisasi hutan jika kepadatan pohon kurang atau mengalami degradasi.
  5. Mengenakan tarif pajak pemanfaatan air tanah sesuai dengan tingkat kerusakan kondisi dan lingkungan air tanahnya.

kampanye lestari air

“Dan Kami turunkan air dari langit dengan suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan Kami pasti berkuasa menghilangkannya” (Alquran, 23:18)

About these ads

Responses

  1. Sumber Daya Air di Indonesia harus dijaga dan dirawat guna untuk kepentingan orang banyak. Jadi apabila sumber daya air tersebut kering atau keruh berdampak negatif pada masyarakat luas. Konservasi sumber daya air ini sejalan dengan program Pak Prabowo Subianto bila terpilih menjadi Presiden Indonesia 2014-2019


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,061 other followers

%d bloggers like this: